Tag Archive | Pendampingan Koperasi

Pendampingan Koperasi Perempuan

Menggunakan pendekatan ABCD (Asset Based Community Development)  YSKK menginisiasi 3 Koperasi perempuan dengan menggunakan potensi atau modality yang sudah ada di masyarakat. 3 Koperasi Perempuan yang diinisiasi di Kabupaten Gunungkidul  bukanlah merupakan kelompok yang baru, namun kelompok perempuan yang sudah ada di desa yang kemudian “dinaikkan kelasnya “, menjadi organisasi keuangan yang berbadan hukum yang kemudian diberi nama Koperasi Serba Usaha (KSU) dimana pengelola dan anggotanya adalah khusus perempuan. 2 Koperasi lahir pada tahun 2011 yaitu Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) yang jumlah kekayaannya saat ini kurang lebih adalah Rp. 200 Juta, dan Koperasi  Mitra Usaha Perempuan (MUP) yang jumlah kekayaannya saat ini kurang lebih Rp.110 Juta. Sedangkan 1 Koperasi perempuan yang lahir tahun 2015 adalah Koperasi Sekar Arum (SA), yang jumlah kekayaannya saat ini adalah Rp.27 juta. Di dalam perkembangannya ketiga koperasi ini rutin mendapatkan pendampingan dan monitoring dari YSKK hingga saat ini. Pendampingan dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab YSKK karena sudah menginisiasi sebuah lembaga keuangan di tengah – tengah masyarakat. Pendampingan yang dilakukan seperti penguatan kapasitas bagi pengelola/pengurus dan pengawas koperasi, pemberian softloan (pinjaman lunak), pengadministrasian laporan keuangan koperasi dari yang manual (pencatatan buku) hingga pencatatan menggunakan komputer, pendampingan untuk berjejaring dengan pihak – pihak terkait seperti dinas koperasi, dinas perdagangan, dll, dan pendampingan terkait dengan managemen Koperasi.

Pendampingan dan monitoring yang dilakukan untuk ketiga koperasi tentunya dilakukan secara bertahap, dimana dalam setiap bulannya ada prioritas pendampingan yang dilakukan di masing – masing koperasi. Sedangkan untuk fokus pendampingan 3 koperasi di bulan April 2017 ini adalah terkait dengan :

  1. Pelatihan penggunakan excel bagi bendahara 2 koperasi. Hal ini dilakukan karena selama ini yang mampu menggunakan komputer untuk pembukuan keuangan hanya dilakukan oleh bendahara 1 saja, bahkan dari 7 pengurus/ pengelola koperasi hanya 1 orang yang mampu menggunakan komputer untuk melakukan input laporan keuangan. Hal ini tentu saja menghambat penyusunan laporan keuangan koperasi yang setiap bulannya harus dikirim ke dinas maupun ke pihak – pihak yang lain karena harus menunggu bendahara 1 menyelesaikan laporan keuangan. Strategi yang coba dilakukan untuk melatih inputing data bagi bendahara 2 koperasi adalah dengan memberikan tugas (praktek) inputing laporan keuangan bulan maret (buku uang masuk, uang keluar, pencatatan simpanan, dan neraca) saat pendampingan lapangan.
  2. Identifikasi kredit macet berdasarkan tahapan (kredit lancar, kredit kurang lancar, kredit tidak lancar dan kredit macet). Identifikasi ini perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah kredit macet yang ada di masing – masing koperasi. Aktivitas teknis yang kemudian dilakukan adalah melakukan pendataan kredit dari masing – masing anggota. Pendataan ini sudah mulai dilakukan di minggu kedua april, dan targetnya pada minggu ketiga april aktivitas ini selesai, sehingga dapat digunakan dalam koordinasi pengurus koperasi di bulan April.

Jika melihat fokus pendampingan yang dilakukan nampaknya mudah untuk dilakukan, namun hal tersebut menjadi tidak mudah jika yang dihadapi adalah ibu – ibu/ perempuan yang kesehariannya lebih banyak waktunya untuk bekerja di ladang, pasar, atau didapur (usaha makanan). Terlebih lagi pengelola dari 3 Koperasi perempuan tersebut adalah orang – orang yang (awalnya) belum berpengalaman dalam hal perkoperasian, memiliki aktivitas rutin harian yang harus dilakukan  dan  pengelolaan koperasi lebih banyak bersifat sukarela ketimbang profesional.  Sukarela karena hak yang diterima oleh pengelola tidak sebanding dengan kewajiban yang harus dilakukan oleh para pengelola tersebut, selain itu pengelolaan koperasinya pun bukan menjadi aktivitas harian bagi para pengelolanya. karena ketiga koperasi hanya buka seminggu sekali, mengingat kesibukan (pekerjaan) dari para pengelolaanya.

Menuju  koperasi Perempuan yang profesional, hal tersebut merupakan impian dari pengelola koperasi, namun hal tersebut dilakukan secara bertahap dan pembenahan yang ada dilakukan secara terus menerus. Dari yang awalnya sulit melakukan pertemuan pengelola koperasi setiap bulan, saat ini sudah rutin dilakukan bahkan pertemuan anggota pun rutin dilakukan. Dari penyusunan laporan keuangan bulanan yang selalu terlambat saat ini sudah mulai tertip dilakukan setiap bulannya, dari pembukuan administrasi yang belum tertip dan rapi saat ini sudah mulai rapi, dari yang belum memiliki perencanaan anggaran setiap bulannya saat ini sudah dimulai untuk menyusun perencanaan anggaran disetiap bulannya, serta dari kegiatan usaha yang sempat terhenti saat ini perlahan sudah mulai berjalan. Hal – hal sederhana tersebutlah yang jika kemudian rutin dilakukan akan memperlihatkan bedanya koperasi yang selama ini didampingi YSKK dengan koperasi yang lain.

Lebih dari 15 tahun kiranya, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) melakukan inisiasi dan mendampingi Koperasi. Dari Koperasi yang sifatnya umum, yaitu semua orang (laki laki & perempuan) bisa mengakses, Koperasi Khusus seperti Koperasi Pengusaha Gerabah di NTB, Koperasi khusus para pengerajin Tenun di NTT dan Koperasi Perempuan di Kabupaten Gunungkidul. Jangan dibayangkan jika koperasi – koperasi yang dibentuk tersebut diisi oleh pengelola atau orang – orang yang profesional dan berpengalaman. Koperasi koperasi tersebut dikelola oleh masyarakat sekitar yang bisa dikatakan baru sekali dalam hal koperasi (ketika saat pembentukan), belum berpengalaman, belum paham pembukuan koperasi,  belum paham bagaimana koperasi ini akan berjalan, bahkan gaptek (gagap teknologi) dalam penggunaan komputer. Namun karena memiliki kemauan yang keras untuk memajukan koperasi dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya, koperasi koperasi tersebut berupaya untuk menjadi lebih baik.  Pun demikian dengan 3 koperasi perempuan yang diinisiasi YSKK di Kabupaten Gunungkidul. Dengan segala keterbatasan yang ada, Melalui pendampingan dan monitoring yang rutin dilakukan oleh tim program dari YSKK serta kemauan yang tinggi dari pengelola dan anggota koperasi, ketiga koperasi perempuan ini masih terus menunjukkan eksistensinya ditengah ramainya persaingan kegiatan microfinance saat ini.

 

Advertisements