Tag Archive | Koperasi Perempuan YSKK

Koperasi Perempuan Yang Terus Berbenah

Salah satu indikasi eksistensi sebuah organisasi atau kelompok  adalah adanya pertemuan rutin. Karena dalam pertemuan tersebut biasanya akan dibahas segala hal yang terkait dengan organisasi, mengevaluasi kinerja dari organisasi secara periodik dan membahas rencana aksi/kegiatan yang akan dilakukan oleh organisasi. Hal tersebutlah yang juga dilakukaan oleh 2 (Dua) Koperasi #Perempuan yang didampingi oleh YSKK, yaitu Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) dan Koperasi Sekar Arum (SA) yang rutin melakukan pertemuan bulanan baik untuk pengurus maupun anggota koperasi.  Karena melalui pertemuan rutin pengurus koperasi inilah, Koperasi #Perempuan berbenah, berbenah terkait dengan kondisi internal koperasi dan berbenah terkait dengan aktivitas eksternal yang sudah dan akan dilakukan koperasi. Pembenahan koperasi dilakukan dalam rangka menuju Koperasi #Perempuan yang profesional.

Di Bulan April ini Koperasi KPM melaksanakan pertemuan rutin pengurus pada Jum’at 21 April 2017 sedangkan Koperasi SA melaksanakan pertemuan rutin pengurus pada Selasa 25 April 2017. Agenda Pertemuan rutin pengurus bulanan biasanya digunakan sebagai media untuk para pengurus koperasi saling berkomunikasi mengutarakan persoalan – persoalan yang sedang terjadi di koperasi, melaporkan kegiatan yang sudah dilaksanakan koperasi, melaporkan keuangan koperasi, dll. Sedangkan pada pertemuan anggota bulanan biasanya digunakan sebagai media untuk melakukan kegiatan simpan pinjam dan juga diskusi terkait dengan kegiatan usaha anggota yang biasanya diisi dengan praktek membuat makanan olahan.

Dalam setiap pertemuan rutin bulanan minimal ada 4 hal yang wajib menjadi materi bahasan  yaitu Keuangan Koperasi, Managemen Koperasi, Usaha Koperasi dan Jaringan Kerja Koperasi. Dalam pertemuan pengurus Koperasi di bulan april ini, selain membahas keempat hal tersebut diatas dibahas juga beberapa aktivitas lain yang sudah dan akan dilakukan oleh Koperasi.  Berikut adalah hasil dari pertemuan rutin bulanan pengurus Koperasi #Perempuan (KPM & SA) ;

  1. Terkait dengan keuangan koperasi per maret 2017 Koperasi KPM memiliki Jumlah Aktiva/kekayaan sebesar Rp. 197.535.089 dan laba sebesar Rp. 5.131.285. Sedangkan untuk koperasi SA memiliki Jumlah Aktiva/kekayaan sebesar rp. 27.317.695 dan laba sebesar Rp. 897.700. Dari catatan keuangan kedua koperasi per maret 2017 ini secara umum tidak ada yang berbeda dengan bulan – bulan sebelumnya. Sedikit hal yang disepakati untuk ditambahkan dalam pencatatan keuangan adalah,  untuk laporan keuangan bulan selanjutnya diharapkan melakukan pengklasifikasikan piutang anggota, yaitu kategori piutang lancar, kurang lancar, tidak lancar dan macet. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kesehatan keuangan koperasi.
  2. Terkait dengan managemen koperasi dalam hal ini administasi pembukuan dan pembagian kinerja dalam kepengurusan. Untuk KPM disepakati didalam kepengurusan akan ada tambahan sekretaris 2, hal ini penting untuk dilakukan mengingat kondisi sekertaris 1 KPM yang sangat sibuk dengan pekerjaannya mengakibatkan beberapa pengadministrasian koperasi terbengkalai.
  3. Sedangkan terkait dengan pengembangan usaha koperasi, untuk koperasi KPM akan mengganti pola pengembangan usaha, jika sebelumnya KPM mengangkat orang khusus untuk memproduksi makanan olahan namun mulai april 2017 KPM akan lebih banyak berperan sebagai pemasaran/marketing produk dari anggota. Sedangkan untuk koperasi SA berencana akan mengajukan proposal bantuan alat – alat produksi makanan ke Dinas Perdagangan, dimana alat – alat hasil produksi tersebut kemudian akan disewakan kepada para anggota yang membutuhkan.
  4. Di bulan april ini, Koperasi KPM mendapatkan undangan diskusi dari Dinas Koperasi & UMKM Kabupaten Gunungkidul. Diskusi terkait dengan penilaian kesehatan Koperasi. Dari diskusi tersebut didapatkan informasi bahwasannya laporan tahunan koperasi (laporan RAT) mulai tahun 2017 dilampirkan dengan penilaian kesehatan koperasi yang dilakukan secara internal oleh koperasi itu sendiri. Penilaian kesehatan koperasi ini sangat penting untuk mengetahui tingkat kesehatan koperasi dari beberapa aspek. Untuk mengetahui hal – hal apa saja yang dinilai dalam penilaian kesehatan koperasi dapat mengacu pada Peraturan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI No : 06/Per/Dep.6/IV/2016 Tentang Pedoman Penilaian Koperasi Simpan Pinjam Dan Unit Simpan Pinjam Koperasi.
  5. Selain beberapa hal tersebut diatas ada juga pembahasan terkait dengan adanya usulan dari anggota koperasi Sekar Arum terkait dengan ketentuan denda yang memberatkan anggota. Dimana dalam AD/ART Koperasi SA bahwa dendaa diberikan kepada anggota/peminjam yang terlambat dalam membayar piutang setiap bulannya, besarnya denda adalah 1x bunga (disesuaikan dengan bunga yang diterima oleh masing – masing anggota). Karena ketentuan denda sudah tercantum dalam AD/ART koperasi maka ketentuan ini baru akan dirubah pada saat RAT.

Beberapa hasil dan Rekomendasi pertemuan pengurus tersebut akan menjadi acuan kinerja koperasi di bulan selanjutnya, yang kemudian akan menjadi bahan evaluasi pada Mei. Menuju koperasi #Perempuan yang profesional memang tidak mudah untuk dilakukan. Ditambah lagi 2 (dua) koperasi #Perempuan yang didampingi YSKK tidak dikelola oleh tenaga – tenaga profesional yang berlatar belakang sarjana ekonomi, namun Koperasi #Perempuan ini dikelola oleh perempuan – perempuan desa dengan berlatar belakang “Niat & Kemauan” yang mana masih perlu banyak belajar. Sehingga setiap bulan sembari berupaya untuk mengelola Koperasi, para pengurus Koperasi #Perempuan ini juga terus belajar, membenahi dan mengelola Koperasi sesuai dengan layaknya Koperasi – Koperasi yang ada, sesuai dengan peraturan perundangan perkoperasian yang ada.

Advertisements

Pendampingan Koperasi Perempuan

Menggunakan pendekatan ABCD (Asset Based Community Development)  YSKK menginisiasi 3 Koperasi perempuan dengan menggunakan potensi atau modality yang sudah ada di masyarakat. 3 Koperasi Perempuan yang diinisiasi di Kabupaten Gunungkidul  bukanlah merupakan kelompok yang baru, namun kelompok perempuan yang sudah ada di desa yang kemudian “dinaikkan kelasnya “, menjadi organisasi keuangan yang berbadan hukum yang kemudian diberi nama Koperasi Serba Usaha (KSU) dimana pengelola dan anggotanya adalah khusus perempuan. 2 Koperasi lahir pada tahun 2011 yaitu Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) yang jumlah kekayaannya saat ini kurang lebih adalah Rp. 200 Juta, dan Koperasi  Mitra Usaha Perempuan (MUP) yang jumlah kekayaannya saat ini kurang lebih Rp.110 Juta. Sedangkan 1 Koperasi perempuan yang lahir tahun 2015 adalah Koperasi Sekar Arum (SA), yang jumlah kekayaannya saat ini adalah Rp.27 juta. Di dalam perkembangannya ketiga koperasi ini rutin mendapatkan pendampingan dan monitoring dari YSKK hingga saat ini. Pendampingan dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab YSKK karena sudah menginisiasi sebuah lembaga keuangan di tengah – tengah masyarakat. Pendampingan yang dilakukan seperti penguatan kapasitas bagi pengelola/pengurus dan pengawas koperasi, pemberian softloan (pinjaman lunak), pengadministrasian laporan keuangan koperasi dari yang manual (pencatatan buku) hingga pencatatan menggunakan komputer, pendampingan untuk berjejaring dengan pihak – pihak terkait seperti dinas koperasi, dinas perdagangan, dll, dan pendampingan terkait dengan managemen Koperasi.

Pendampingan dan monitoring yang dilakukan untuk ketiga koperasi tentunya dilakukan secara bertahap, dimana dalam setiap bulannya ada prioritas pendampingan yang dilakukan di masing – masing koperasi. Sedangkan untuk fokus pendampingan 3 koperasi di bulan April 2017 ini adalah terkait dengan :

  1. Pelatihan penggunakan excel bagi bendahara 2 koperasi. Hal ini dilakukan karena selama ini yang mampu menggunakan komputer untuk pembukuan keuangan hanya dilakukan oleh bendahara 1 saja, bahkan dari 7 pengurus/ pengelola koperasi hanya 1 orang yang mampu menggunakan komputer untuk melakukan input laporan keuangan. Hal ini tentu saja menghambat penyusunan laporan keuangan koperasi yang setiap bulannya harus dikirim ke dinas maupun ke pihak – pihak yang lain karena harus menunggu bendahara 1 menyelesaikan laporan keuangan. Strategi yang coba dilakukan untuk melatih inputing data bagi bendahara 2 koperasi adalah dengan memberikan tugas (praktek) inputing laporan keuangan bulan maret (buku uang masuk, uang keluar, pencatatan simpanan, dan neraca) saat pendampingan lapangan.
  2. Identifikasi kredit macet berdasarkan tahapan (kredit lancar, kredit kurang lancar, kredit tidak lancar dan kredit macet). Identifikasi ini perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah kredit macet yang ada di masing – masing koperasi. Aktivitas teknis yang kemudian dilakukan adalah melakukan pendataan kredit dari masing – masing anggota. Pendataan ini sudah mulai dilakukan di minggu kedua april, dan targetnya pada minggu ketiga april aktivitas ini selesai, sehingga dapat digunakan dalam koordinasi pengurus koperasi di bulan April.

Jika melihat fokus pendampingan yang dilakukan nampaknya mudah untuk dilakukan, namun hal tersebut menjadi tidak mudah jika yang dihadapi adalah ibu – ibu/ perempuan yang kesehariannya lebih banyak waktunya untuk bekerja di ladang, pasar, atau didapur (usaha makanan). Terlebih lagi pengelola dari 3 Koperasi perempuan tersebut adalah orang – orang yang (awalnya) belum berpengalaman dalam hal perkoperasian, memiliki aktivitas rutin harian yang harus dilakukan  dan  pengelolaan koperasi lebih banyak bersifat sukarela ketimbang profesional.  Sukarela karena hak yang diterima oleh pengelola tidak sebanding dengan kewajiban yang harus dilakukan oleh para pengelola tersebut, selain itu pengelolaan koperasinya pun bukan menjadi aktivitas harian bagi para pengelolanya. karena ketiga koperasi hanya buka seminggu sekali, mengingat kesibukan (pekerjaan) dari para pengelolaanya.

Menuju  koperasi Perempuan yang profesional, hal tersebut merupakan impian dari pengelola koperasi, namun hal tersebut dilakukan secara bertahap dan pembenahan yang ada dilakukan secara terus menerus. Dari yang awalnya sulit melakukan pertemuan pengelola koperasi setiap bulan, saat ini sudah rutin dilakukan bahkan pertemuan anggota pun rutin dilakukan. Dari penyusunan laporan keuangan bulanan yang selalu terlambat saat ini sudah mulai tertip dilakukan setiap bulannya, dari pembukuan administrasi yang belum tertip dan rapi saat ini sudah mulai rapi, dari yang belum memiliki perencanaan anggaran setiap bulannya saat ini sudah dimulai untuk menyusun perencanaan anggaran disetiap bulannya, serta dari kegiatan usaha yang sempat terhenti saat ini perlahan sudah mulai berjalan. Hal – hal sederhana tersebutlah yang jika kemudian rutin dilakukan akan memperlihatkan bedanya koperasi yang selama ini didampingi YSKK dengan koperasi yang lain.

Lebih dari 15 tahun kiranya, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) melakukan inisiasi dan mendampingi Koperasi. Dari Koperasi yang sifatnya umum, yaitu semua orang (laki laki & perempuan) bisa mengakses, Koperasi Khusus seperti Koperasi Pengusaha Gerabah di NTB, Koperasi khusus para pengerajin Tenun di NTT dan Koperasi Perempuan di Kabupaten Gunungkidul. Jangan dibayangkan jika koperasi – koperasi yang dibentuk tersebut diisi oleh pengelola atau orang – orang yang profesional dan berpengalaman. Koperasi koperasi tersebut dikelola oleh masyarakat sekitar yang bisa dikatakan baru sekali dalam hal koperasi (ketika saat pembentukan), belum berpengalaman, belum paham pembukuan koperasi,  belum paham bagaimana koperasi ini akan berjalan, bahkan gaptek (gagap teknologi) dalam penggunaan komputer. Namun karena memiliki kemauan yang keras untuk memajukan koperasi dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya, koperasi koperasi tersebut berupaya untuk menjadi lebih baik.  Pun demikian dengan 3 koperasi perempuan yang diinisiasi YSKK di Kabupaten Gunungkidul. Dengan segala keterbatasan yang ada, Melalui pendampingan dan monitoring yang rutin dilakukan oleh tim program dari YSKK serta kemauan yang tinggi dari pengelola dan anggota koperasi, ketiga koperasi perempuan ini masih terus menunjukkan eksistensinya ditengah ramainya persaingan kegiatan microfinance saat ini.