Tag Archive | arisan perempuan

Magnet Arisan & Simpan Pinjam Dalam Kegiatan Perempuan

IMG_5860.jpgDalam Kegiatan Kelompok Perempuan baik itu di desa maupun di kota, kegiatan Arisan dan Simpan Pinjam pastinya akan kita temui. Baik itu kegiatan yang diselenggarakan oleh PKK (Desa – Dusun-  Dasawisma), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Kesenian Perempuan, dll. Nampaknya magnet dari kegiatan arisan dan simpan pinjam masih dirasa cukup ampuh untuk menarik minat masyarakat (perempuan) untuk terlibat aktif dalam kegiatan suatu kelompok. Setidaknya realita inilah yang saya temui pada saat kegiatan konsolidasi kelompok kelompok perempuan di 5 Desa baru baru ini. Karena dalam presentasi yang dilakukan oleh perwakilan dari pengurus kelompok saat diberikan waktu untuk sharing kegiatan kelompoknya, hampir semua kelompok menjelaskan bahwasannya kegiatan arisan dan simpan pinjam merupakan salah satu dari sekian banyak kegiatan yang ada dalam kelompoknya. Fakta ini menjelaskan bahwa kegiatan Arisan dan Simpan Pinjam belum bisa terlepas dari kegiatan yang dilakukan kelompok perempuan. Malahan bisa jadi kegiatan arisan dan Simpan Pinjam menjadi kegiatan utama dalam kegiatan kelompok setiap bulannya. Seperti halnya Kelompok Perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT), logikanya ketika perempuan tergabung dalam KWT maka aktivitas utama yang dilakukan adalah seperti penanaman lahan bersama, atau penjualan hasil panen secara bersama atau juga pembibitan. Namun fakta yang ditemui di beberapa KWT justru kegiatan yang ada dan nampak adalah kegiatan arisan dan simpan pinjam perempuan belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pertanian.

Pengertian arisan sendiri menurut laman Wikipedia adalah kelompok orang yang mengumpulkan uang secara teratur pada tiap – tiap periode tertentu, dimana setelah uang terkumpul, salah satu dari anggota kelompok akan keluar sebagai pemenang. Jika menggunakan bahasa dari ibu – ibu anggota kelompok, sebenarnya arisan lebih pada sebuah metode menabung yang mudah dilakukan tanpa khawatir untuk mengambilnya (sewaktu – waktu) karena ada kesepakatan bersama ketika akan mengambilnya. Karena jika seseorang sudah melakukan akad dalam arisan maka secara sadar harus mengumpulkan uang sesuai dengan kesepakatan kelompok. Arisan yang dilakukan di kelompok perempuan desa tidak hanya dalam bentuk uang namun ada juga arisan dalam bentuk barang ataupun bahan pokok seperti beras, gula, minyak, dll. Sedikit berbeda dengan arisan, Simpan Pinjam sendiri memiliki pengertian simpanan yang dikumpulkan bersama dan dipinjamkan kepada anggota yang membutuhkan dengan bunga/jasa tertentu (biasanya dalam kelompok bisa 2 – 3%). Simpan Pinjam yang umumnya dilakukan di kelompok perempuan, ada yang menggunakan sumber uang atau modal dari tabungan dan iuran anggotanya yang kemudian diputar untuk disimpan pinjamkan, Ada juga yang memang kelompok tersebut meminjam modal (pinjaman) kepada pihak lain. Biasanya pinjaman kelompok berasal dari pemerintah desa, UPK PNPM, atau Lembaga Keuangan Mikro setempat yang tidak membutuhkan prasyarat yang rumit saat kelompok perempuan akan mengajukan pinjaman. Seperti tidak dibutuhkannya badan hukum kelompok saat akan mengajukan pinjaman atau bahkan seringkali kelompok perempuan tersebut ditawari pinjaman. Yang kemudian pinjaman tersebut diputar dilingkup kelompok, ada yang kemudian dipinjamkan sesuai kebutuhan anggota, namun juga ada yang dipinjamkan secara rata (semua anggota) baik yang memang membutuhkan pinjaman ataupun tidak.

Namun seringkali Kelompok Perempuan yang ada di desa melupakan makna sesungguhnya akan terbentuknya suatu kelompok karena terlalu disibukkan dengan kegiatan arisan dan simpan pinjam tersebut. Setidaknya beberapa kelompok yang saya temui saat konsolidasi menceritakan bahwa dari semua kegiatan yang ada dalam kelompoknya, hanya kegiatan arisan dan simpan pinjam yang dapat berjalan dengan baik. Kegiatan lain seperti pembuatan olahan makanan bersama (produksi & penjualan), penggarapan lahan bersama (seperti KWT), dan pembahasan persoalan perempuan dan anak di desa menjadi hambar dan kurang bermakna didalam aktivitasnya karena setiap anggota yang hadir lebih berorientasi pada kegiatan arisan dan simpan pinjamnya.

Makna terbentuknya Kelompok Perempuan di desa (khususnya) harusnya lebih pada bagaimana perempuan secara berkelompok mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki. Karena biasanya potensi – potensi perempuan akan muncul ketika dilakukan kegiatan bersama, saling tukar ide dan pengalaman. Seperti kegiatan olahan makanan, yang jika dilakukan secara pribadi mungkin kurang bergairah, namun ketika dilakukan secara berkelompok dimana disana ada pembagian tugas yang jelas maka akan lebih bergairah dan membawa manfaat yang lebih. Terlebih lagi saat ini, sudah banyak kelompok perempuan yang mendapatkan bantuan teknologi tepat guna (TTG) untuk memproduksi makanan olahan. Namun sayangnya hal ini belum bisa dioptimalkan dengan baik.

“ Kelompok Kami sudah mendapatkan bantuan dari Pemerintah seperti alat pemotong singkong, pisang, dll, kemudian wajan penggorengan yang besar dan spinner. Tapi ya kegiatan pembuatan olahan makanan sejauh ini baru dilakukan dalam skala kecil. Seperti kita melakukan produksi sebulan sekali saat ada pertemuan kelompok, kemudian hasil produksi tersebut kelompok kami sendiri yang membeli. Seandainya dijual keluar ya baru dititipkan warung – warung disekitar” ungkap Ibu Daryanti Seorang anggota kelompok olahan makanan.

Arisan dan Simpan Pinjam dalam kegiatan perempuan memang sulit untuk dilepaskan, karena suka ataupun tidak suka dua kegiatan ini membawa daya tarik / magnet tersendiri untuk mendatangkan masa/anggota kelompok untuk mau hadir dalam kegiatan dan pertemuan kelompok. Hal tersebut tentu tidak lah salah, justru ketika memang kedua kegiatan tersebut dirasa menjadi strategi dalam menarik minat anggota kelompok untuk hadir maka perlu untuk diselenggarakan. Namun akan lebih baik jika kedua kegiatan tersebut hanya lah sebagai pemanis dalam setiap kegiatan kelompok. Tanpa mengurangi maksud dan tujuan dari keberadaan kelompok perempuan tersebut. Seperti kelompok perempuan kesenian (Karawitan, Hadrah/ Khasidahan) yang pastinya kegiatan utamanya berkaitan dengan latihan memainkan gamelan, mengikuti pentas/pertunjukan di beberapa tempat, dan promosi dari kegiatan kesenian kelompoknya, maka jika di dalam kelompok tersebut ada kegiatan arisan dan simpan pinjam bentuk nya hanyalah pemanis dalam kelompok kesenian tersebut. Begitu pula dengan KWT dan kelompok perempuan olahan makanan, kedua kelompok perempuan ini hadir salah satu tujuan utamanya adalah meningkatkan perekonomian keluarga melalui kegiatan ekonomi perempuan. Maka akan sangat menarik jika di dalam kegiatannya terkait dengan bagaimana meningkatkan kualitas makanan olahan agar diterima pasar, bagaimana mendapatkan peluang pasar, bagaimana meningkatkan volume produksi dan penjualan, dll.

Label nama dalam sebuah kelompok sejatinya mencerminkan apa dan bagaimana kelompok tersebut, namun seringkali label nama kelompok tidak seiring sejalan dengan aktivitas yang dilakukan kelompok. Lahirnya kelompok perempuan yang ada di desa dengan berbagai label nama yang melekat menunjukkan betapa desa kaya akan potensi masyarakatnya. Perlu nya sedikit perhatian dari pemerintah setempat terkait dengan keberadaan dan eksistensi dari kelompok – kelompok perempuan tersebut menjadi mutlak untuk dilakukan. Karena pemerintah setempat yang berkewajiban membimbing dan mendampingi perkembangan dari kelompok yang ada. Jangan sampai banyaknya kelompok perempuan yang ada di desa, hanya akan menambah beban perempuan (khususnya) karena terlalu banyak kegiatan arisan dan simpan pinjam yang mereka ikuti. Karena kedua kegiatan ini seyogyanya hanyalah kegiatan pemanis dalam kegiatan yang ada di kelompok perempuan bukan kegiatan utama.

Advertisements