Archives

Tahapan Mengembangkan Produk Unggulan Desa

Dalam rangka mendukung pembangunan Desa, Kementrian Desa Pembanguan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) telah menetapkan empat program prioritas. Empat program tersebut yakni (1) Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), (2) Membangun embung air desa, (3) Mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), (4) Membangun Sarana Olahraga Desa (Raga Desa). Khususnya yang terkait dengan Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) adalah dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produk unggulan Desa, agar mampu bersaing dan memberikan manfaat ekonomi masyarakat bagi masyarakat.

Didalam pelaksanaannya, pengembangan Prukades masih terdapat beberapa kendala terutama di tingkat desa diantaranya, Pertama Desa seringkali masih kebingunan dalam menentukan apa yang akan menjadi produk unggulan desa yang layak untuk dikembangkan, Kedua jika sudah menentukan produk unggulan tersebut kemudian bagaimana produk tersebut mampu bersaing dengan wilayah – wilayah lain, Ketiga Bagaimana mempromosikan produk unggulan tersebut agar mampu dikenal oleh masyarakat secara luas. Karena disadari bersama keterbatasan promosi dan pemasaran masih sangat dirasakan di Desa.

Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) melalui Divisi Pemberdayaan Perempuan di tahun 2018 berinovasi untuk mengembangkan Desa MANTAP (Mandiri, Terampil, dan Produktif) di 4 Desa (Desa Semin, Sambirejo, Watusigar dan Kampung) di Kabupaten Gunungkidul, dimana salah satu Indikator Desa MANTAP adalah Desa Memiliki Produk Unggulan, yang menjadi ciri khas dari Desa Tersebut. Dalam penentuan produk unggulan Desa beberapa tahapan yang dilakukan diantaranya :

  1. Penyusunan Profil Ekonomi Desa, dimana dalam profil tersebut teridentifikasi potensi – potensi lokal desa, dari potensi alam, sumber daya manusia, industri mikro kecil, aktivitas perdagangan dan infrastruktur ekonomi. Biasanya dari Potensi Ekonomi Desa ini akan nampak potensi apa saja yang sebenarnya sudah ada di Desa namun kurang dioptimalkan.
  2. Focus Group Disscussion (FGD) dengan Pemerintah Desa beserta masyarakat (khususnya Kelompok – kelompok Ekonomi Desa)  dalam membangun kesepakatan terkait dengan apa yang akan menjadi produk unggulan Desa. FGD dilakukan dengan memaparkan hasil Penyusunan Profil Ekonomi Desa, dimana didalam Profil Ekonomi Desa tersebut akan nampak peluang untuk pengembangan produk atau sumber daya alam potensial desa. Sebagai contoh Beberapa pilihan dari Produk unggulan 4 Desa yang didampingi YSKK sepakat untuk produk unggulan Desa diantaranya seperti : Produk Olahan Umbi umbian, Olahan  daun kelor, aneka kripik sayuran, Kerajinan anyaman plastik dan kerajinan akar wangi.  Pilihan tersebut didasarkan hasil Identifikasi Potensi Ekonomi Desa yang menunjukan bahwa produk – produk tersebut sudah lama banyak diproduksi oleh masyarakat. Sehingga ada jaminan untuk produk tersebut terus diproduksi.
  3. Tahap selanjutnya, setelah disepakati produk apa saja yang akan menjadi produk unggulan Desa adalah bagaimana meningkatkan kualitas & kuantitas produk unggulan desa tersebut supaya layak jual, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan desa. Proses meningkatkan kualitas & kuantitas produk dilakukan dengan melakukan identifikasi Kekuatan – kelemahan – peluang – tantangan dalam mengembangkan Produk Unggulan bersama dengan para pelaku ekonomi dari produk tersebut, Pemerintah Desa dan Pihak terkait. Identifikasi dilakukan untuk mengetahui proses produksi produk dari Hulu – Hilir, sehingga akan diketahui tahapan apa saja yang baiknya dilakukan untuk mengoptimalkan produk unggulan tersebut. Apakah pada proses produksinya, Pengemasan, Pemasaran atau bahkan di bagian pengadaan Bahan Baku.Dan pada setiap tahapan akan nampak kelemahan dari Produk Unggulan tersebut, yang kemudian bisa menjadi rekomendasi untuk diperbaiki bersama.
  4. Ditahapan terakhir adalah membangun pasar – jejaring dalam rangka mempromosikan dan menjual produk unggulan tersebut supaya dikenal oleh masyarakat luas.
  5. Evaluasi & Monitoring, merupakan aktivitas yang baiknya melekat dalam setiap tahapan agar Tujuan awal untuk Mengembangkan dan Mengoptimalkan Produk unggulan tersebut.

 

Tahapan yang sangat urgen untuk dilakukan secara cermat adalah pada 1 – 3, dimana pada tahap ini jika sejak awal salah menentukan apa yang akan menjadi produk unggulan Desa, maka didalam perkembangannya pun akan mengalami kesulitan. Begitu halnya jika kesalahan terjadi di tahap ketiga, dimana tahap ketiga adalah tahapan untuk mengidentifikasi Kekuatan dan Kelemahan Produk Unggulan (selama ini) maka upaya optimalisasi Produk Unggulan bisa menjadi kurang efektif.

Advertisements

Bisnis Model Kanvas Untuk Kelompok Perempuan

Rabu, 17 Oktober 2018 Yayasan Satu Karsa Karya melalui Divisi Pemberdayaan Perempuan memfasilitasi pertemuan Kelompok Desa Prima Desa Sambirejo Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul. Fasilitasi terkait dengan penyusunan rencana kerja/ rencana bisnis Kelompok Perempuan tersebut dalam mengoptimalkan produk unggulan Desa. Seperti yang disepakati sebelumnya bahwa Melalui Kelompok Ekonomi Perempuan ini Desa Sambirejo akan mengoptimalkan Produk Unggulan Desa yang berupa produk olahan makanan berbahan baku kelor, olahan makanan berbahan baku sayuran dan olahan makanan berbahan baku bonggol pisang. Produk olahan makanan tersebut sebenarnya sudah diproduksi oleh kelompok maupun individu, namun untuk bisa menjadi produk unggulan perlu kiranya strategi peningkatan kualitas, kuantitas dan penjualan produk tersebut agar lebih dikenal oleh masyarakat secara luas (terutama pasar di luar Desa Sambirejo).

Proses penyusunan Rencana Bisnis yang dilakukan menggunakan Metode Bisnis Model Kanvas, Analisa Bisnis Model Konvas ini dirasa cukup mempermudah kelompok perempuan dalam melakukan analisa kekuatan dan kelemahan bisnis. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan, maka analisa akan kebutuhan dan profit dapat dilakukan dengan cepat.

 

Contoh Hasil Bisnis Model Kanvas Kelompok Perempuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses fasilitasi dilakukan dengan berkelompok mendasarkan jenis produk unggulan yaitu 1) Olahan Bonggol Pisang, 2) Kripik Sayuran dan 3) Olahan Daun Kelor. Dari hasil analisis tersebut terdapat Kelemahan, Kekuatan, Peluang dan Tantangan dalam kualitas dan Kuantitas produk tersebut. yaitu

Kekuatan

  1. Produksi sudah dilakukan secara terus menerus
  2. Sudah memiliki beberapa rekan usaha/ tengkulak yang rutin order
  3. Beberapa produk sudah memiliki PIRT
  4. Dalam hal rasa dan kualitas produk tidak pasaran.

Kelemahan

  1. Bahan Baku seperti Kelor dan Bonggol Pisang agak sulit didapat terutama di musim kemarau.
  2. Proses pemotongan bahan baku masih dilakukan manual sehingga membutuhkan waktu yang lama
  3. Dalam perhitungan harga, hanya mempertimbangkan komponen bahan baku saja, belum mempertimbangkan komponen lain seperti listrik, air dan tenaga.
  4. Untuk produk olahan berbahan baku kelor yaitu egg rol baru bisa diproduksi satu orang saja padahal permintaan pasar cukup tinggi.
  5. Untuk produk olahan Mie Kelor masih terkendala peralatan/ Teknologi Tepat Guna
  6. Belum memaksimalkan media sosial/ media online untuk pemasaran.
  7. Kemasan produk kurang menarik
  8. Belum semua produk memiliki PIRT

Peluang

  1. Akhir tahun mendekati penyusunan RKP Desa baru (2019), kelompok perempuan bisa mengusulkan pelatihan produk olahan untuk kelompok ekonomi perempuan atau peralatan.
  2. Sudah berjejaring dengan pihak ketiga seperti YSKK, Dinas terkait dan LSM lain minimal bisa ikut terlibat dalam kegiatan pemasaran atau penguatan Kapasitas.

Tantangan

  1. Selain kelompok ekonomi Desa Sambirejo, beberapa Desa sekitar juga memiliki produk olahan makanan yang sama. Sehingga harus membuat cirri khas produk Desa Sambirejo agar dikenal luas.

Dari analisa diatas kemudian diturunkan beberapa strategi dan rekomendasi dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas produk unggulan Desa, beberapa strategi yang dihasilkan antara lain :

  1. Mengusulkan kepada Pemerintah Desa melalui Musyawarah Desa 2018 agar dianggarkan untuk peralatan atau Teknologi Tepat Guna untuk produksi Mie Kelor (Rekomendasi untuk Pemerintah Desa)
  2. Mengusulkan Kepada Pemerintah Desa melalui Musyawarah Desa 2018 ada anggaran untuk pengadaan bibit kelor dan pisang, untuk menutupi kekurangan bahan baku (Rekomendasi untuk Pemerintah Desa)
  3. Mencari informasi ke daerah sekitar Gunungkidul seperti Klaten, Sukoharjo dan Wonogiri terkait dengan bahan baku bonggol pisang dan daun Kelor (Rekomendasi untuk anggota kelompok)
  4. Menambah jumlah anggota kelompok yang ikut produksi olahan kelor (Rekomendasi untuk Anggota Kelompok)
  5. Membuat kemasan yang menarik (Rekomendasi kepada Kelompok dan minta bantuan YSKK)
  6. Membuat Platform usaha Online untuk meningkatkan penjualan ( Rekomendasi kepada Pemerintah Desa terkait dengan Website Desa, dan juga Meminta bantuan YSKK)
  7. Mengikuti kegiatan pelatihan tentang pemasaran (Rekomendasi untuk YSKK terkait dengan pelatihan yang akan dilakukan kedepan)
  8. Mencarikan ijin PIRT untuk produk yang belum memiliki ijin (Rekomendasi untuk Kelompok)

 

Hasil diskusi ini, harapannya menjadi acuan untuk kelompok maupun individu dalam optimalisasi produk unggulan Desa. dan Optimalisasi produk unggulan Desa dapat dilakukan oleh beberapa pihak yaitu kelompok dan anggota kelompok selaku produsen, Pemerinta Desa dan Pihak ketiga seperti YSKK

 

 

 

Perempuan & Wirausaha

Menjadi wirausaha/pengusaha bagi seorang perempuan bukan hal yang mudah. Menjadi hal yang tidak mudah, dikarenakan ketika akan memulai usaha perempuan harus memikirkan permodalan, diketahui bersama ketika perempuan ingin mengakses modal (pinjaman) harus sepengetahuan keluarga atau suami, selain itu bagi perempuan yang sudah memiliki anak perlu selektif memilih jenis usaha karena tentunya usaha yang tidak mengganggu pengasuhan anak. Selain karena keterbatasan, perempuan sering tidak berani membuat keputusan sendiri, banyak tergantung dengan keluarga, suami maupun orang lain.

Tujuan menjadi pengusaha seringkali bukan cita – cita, namun karena kondisi menuntut perempuan mempunyai penghasilan demi memenuhi kebutuhan dan keluarganya, maka perempuan dituntut mampu menjadi seorang pengusaha ekonomi. Saat ini cukup banyak perempuan memilih menjadi wirausaha. Pilihan bekerja menjadi seorang wirausaha semakin hari semakin meningkat, apalagi dikalangan perempuan. Bekerja sebagai seorang wirausaha sesuai dengan kultur sosial perempuan dan mampu dilakukan dengan berbagai keterbatasan dan beban yang ditanggungnya. Dengan wirausaha perempuan dapat berupaya meningkatkan kesejahteraannya, mencukupi kebutuhan keluarganya atau bahkan mengurangi ketergantungan pada pihak lain. Dengan wirausaha perempuan bukan saja akan memperoleh pendapatan saja, namun juga mendapat kesempatan meningkatkan ketrampilannya, pengetahuannya serta jaringannya. Melalui wirausaha, perempuan yang sering diidentikkan dengan perempuan lemah, ternyata mampu berubah menjadi perempuan yang cerdas, mampu menganalisa dan membuat keputusan serta mampu berpartisipasi dalam urusan publik. Perempuan juga bisa membuat perubahan dikeluarganya, kelompoknya maupun lingkup desanya.

YSKK dan Profil Ekonomi Desa

Tahun 2018 Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) berencana untuk mengembangkan Desa MANTAP berbasis kewirausahaan perempuan, yaitu Desa Mandiri – Terampil – Produktif yang berdasarkan pada optimalisasi aktivitas usaha perempuan yang ada di desa. Desa MANTAP berbasis Kewirausahaan Perempuan yang digagas oleh YSKK adalah sebuah gambaran Desa dimana di desa tersebut terdapat berbagai macam kelompok ekonomi perempuan yang berkembang dengan baik, yang memiliki ragam produk dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Salah satu tahapan yang dilakukan dalam rangka Implementasi desa MANTAP adalah proses penggalian data dan informasi terkait dengan potensi ekonomi yang ada di desa. Potensi ekonomi tersebut berupa data – data dan informasi terkait dengan aktivitas ekonomi, kekayaan alam yang ada di desa seperti :

  1. Data dan Informasi Mata Pencaharian Penduduk Desa, hal ini penting untuk mengetahui apa yang menjadi mata pencaharian sebagian besar penduduk desa. Karena harapannya keberadaan desa MANTAP nanti mampu memberikan sumbangsih peningkatan pendapatan bagi masyarakat
  2. Data dan Informasi tentang keberadaan kelompok ekonomi yang ada di Desa. kita ketahui bersama di desa banyak sekali bermunculan kelompok – kelompok ekonomi, entah kelompok tersebut terbentuk atas inisiasi masyarakat maupun terbentuk atas inisiasi pemerintah. Kelompok tersebut memiliki potensi sebagai penggerak ekonomi desa namun selama ini belum terorganisir dan terdata dengan baik. Kelompok ekonomi tersebut seperti Kelompok Tani, Kelompok Wanita Tani, Kelompok Pamdus, Kelompok kerajinan, kelompok olahan makanan, dll.
  3. Data dan Informasi tentang Industri Kecil Menengah (IKM) desa. Keberadaan IKM ini penting untuk didata dengan baik, karena dari data IKM yang dimiliki desa sebenarnya akan nampak kecenderungan kegiatan usaha yang ada di Desa, bahkan dari data ini kita bisa tahu sentra – sentra industri yang dikembangkan di padukuhan – padukuhan.
  4. Data dan Informasi tentang Kegiatan Jasa dan Perdagangan di Desa. Kegiatan jasa dan perdagangan di desa seperti keberadaan toko kelontong, toko oleh – oleh, jasa reparasi kendaraan, percetakaan dll. Kegiatan Jasa dan Perdagangan di lingkup desa, jika didata dengan baik akan memberikan sumbangsih bagi desa ketika akan mengembangkan kegiatan kewirusahaan Desa seperti inisiasi BUMDesa misalnya.
  5. Data dan Informasi tentang infrastruktur ekonomi, seperti Pasar Desa, BUMDesa, Ruko/Kios Desa, dll. infrastruktur ekonomi ini menjadi penting untuk mengetahui seberapa besar kesiapan Desa dalam Mengembangkan Desa MANTAP.
  6. Dari 5 data dan informasi diatas yang terkait dengan potensi ekonomi desa, ada informasi yang juga cukup penting untuk diperoleh yaitu informasi tentang Sumber Daya Alam yang ada di desa beserta kondisinya saat ini.

Data dan informasi potensi ekonomi desa tersebut bisa diperoleh melalui Profil Desa – website desa/ Data dari Dinas Perdagangan Kabupaten atau jika data sekunder desa belum update maka bisa juga melakukan indentifikasi langsung di lapangan. Dalam rencana pengembangan dan Implementasi Desa MANTAP data dan informasi tersebut diatas penting untuk diperoleh sebagai baseline data menyusun strategi serta aktivitas yang baiknya dilakukan untuk implementasi Desa MANTAP. Dari data yang diperoleh tersebut akan diketahui tentang potensi sumber daya manusia dan alam yang ada di desa, potensi ekonomi yang ada di desa serta aktivitas ekonomi mayoritas masyarakat di desa yang kemudian bisa dikembangkan bersama – sama, dengan menaikkan/ meninggkatkan aktivitas yang sudah ada dimasyarakat agar lebih optimal.

Dalam mengembangkan Desa MANTAP berbasis kewirusahaan perempuan, YSKK sengaja untuk tidak menghadirkan produk baru di masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan ABCD (Asset Based Community Development) melalui identifikasi Potensi Ekonomi Desa harapannya Desa MANTAP ini mampu mengoptimalkan potensi – potensi yang ada di desa agar memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi, sehingga mampu lebih mensejahterakan masyarakat. Karena suatu program yang dijalankan dengan mendasar pada potensi masyarakat akan lebih berkelanjutan daripada sebuah program yang dikembangkan atas dasar ide perorangan.

-Lusi-

 

 

Pendampingan Pasca RAT Kopwan KPM

Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Perempuan Karya Perempuan Mandiri (KPM) untuk tahun buku 2017 sudah selesai dilaksanakan, namun bukan berarti pekerjaan rumah dari pengurus koperasi KPM selesai. Karena Pasca RAT ada banyak hal dari rekomendasi hasil RAT yang harus segera ditindak lanjuti. Dalam rangka menindak lanjuti hasil dari RAT tersebut maka Rabu, 14 Februari 2018 bertempat di Sekretariat Koperasi diselenggarakan Rapat Pengurus Bulanan. Rapat pengurus tersebut dihadiri oleh 5 orang pengurus Koperasi KPM, 1 orang pengawas koperasi dan 2 orang pendamping dari YSKK. Beberapa hal yang dibahas dalam Rapat Bulanan Pengurus tersebut antara lain : 1) Evaluasi Pelaksanaan RAT, 2) Menindaklanjuti usulan anggota pada saat RAT, 3) Target Koperasi Hingga Akhir 2018

Evaluasi Pelaksanaan RAT

Dalam evaluasi pelaksanaan RAT beberapa point yang menjadi bahasan antara lain :

  • Secara waktu pelaksanaan, RAT tahun buku 2017 sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, karena hanya molor sekitar 45 menit dari waktu yang direncanakan. Memang hal yang tidak bisa diprediksi adalah terkait dengan sambutan – sambutan dari para pihak yang hadir.
  • Terkait dengan Pembawa Acara (MC) nampaknya kurang mempersiapkan diri, sehingga nampak “Plegak – pleguk”ketika membawakan acara. Kedepan ketika akan RAT, maksimal sehari sebelum RAT semua unsur yang terlibat dalam pelaksanaan RAT harus mengikuti Breafing/ persiapan.
  • Koperasi belum mempersiapkan instrumen “Berita Acara” padahal instrumen ini penting untuk disiapkan, mengingat dalam pelaksanaan RAT menghasilkan beberapa keputusan – keputusan. seperti pengesahan laporan pertanggung jawaban pengurus koperasi, mandat anggota untuk pengurus, dll. Kedepan perlu dilist/ di daftar apa saja yang dibutuhkan dalam RAT sehingga tidak ada yang terlewat.
  • Pada saat pembagian transport dan SHU terlihat sangat tidak teratur, karena ada anggota yang pulang terlebih dahulu (acara belum selesai) yang kemudian mengganggu konsentrasi peserta yang lain. Kedepan ketika akan memulai acara RAT, perlu diumumkan (pada peserta RAT) bahwa transport dan SHU hanya akan dibagikan setelah acara RAT ditutup.

Secara umum pelaksanaan RAT tahun buku 2017 sudah jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, seperti terkait waktu sudah lebih tepat waktu, jumlah peserta RAT juga sudah lebih banyak yang hadir, namun memang persiapan RAT 2017 ini lebih panjang dari yang sebelumnya, dikarenakan laporan keuangan (khususnya) yang harus dikerjakan berulang – ulang kali.

Tindak Lanjut Usulan Anggota

Pada saat RAT, anggota mengajukan beberapa usulan terkait dengan kinerja koperasi tahun 2018. Usulan tersebut diantaranya :

  • Koperasi membuatkan Buku Simpanan Sukarela / Buku Tabungan untuk anggota, sehingga anggota mengetahui jumlah tabungan tanpa harus menanyakan kepada pengurus. usulan ini segera ditindak lanjuti pengurus, buku Tabungan anggota akan diterbitkan bulan Februari ini.
  • Setiap Pertemuan Rutin Bulanan Anggota Koperasi, selain ada arisan diwajibkan juga setiap anggota untuk menabung. Usulan ini akan dibahas kembali pada saat pertemuan anggota bulanan (rencananya bulan maret) terkait dengan minimal tabungan yang disetorkan.
  • Pada saat RAT, anggota memberikan mandat kepada pengurus koperasi untuk mengangkat pengawas, dan pengurus tambahan (jika diperlukan). 2 orang yang berpeluang menjadi pengawas saat ini sedang proses dihubungi langsung oleh ketua koperasi, melihat seberapa besar kemungkinannya untuk bergabung. dan hasilnya maksimal maret sudah ada keputusannya. Sedangkan tambahan pengurus yang dirasa perlu adalah terkait dengan sekretaris 2, mengingat Sekertaris 1 memiliki kesibukan yang super padat sehingga seringkali pekerjaan – pekerjaan sekertaris terabaikan. Dua posisi tersebut yaitu Pengawas dan Sekertaris diupayakan maksimal bulan Maret sudah ada orangnya.

Beberapa usulan anggota ini, sudah mulai ditindak lanjuti oleh pengurus koperasi, dan sudah ada pembagian peran di masing – masing pengurus untuk menindak lanjuti.

Target Koperasi Perempuan Hingga Akhir 2018

Dari pertemuan pengurus sempat didiskusikan beberapa target Kinerja Koperasi hingga akhir 2018 diantaranya :

  • Koperasi memiliki Kios untuk usaha dagang koperasi
  • Laba Koperasi Meningkat 50% dari laba tahun sebelumnya (laba koperasi 2017 Rp. 23,000.000)
  • Pembukuan Keuangan Koperasi, terekap dengan baik dan rapi sehingga persoalan “geseh”di akhir tahun tidak terjadi.
  • Memiliki 2 Pengawas dan 1 orang pengurus baru

Hasil – hasil dari Rapat ini kemudian akan menjadi acuan bagi Pengurus Koperasi dalam menjalan peran dan fungsinya. Sedangkan bagi YSKK, selaku pendamping ini menjadi bahan materi pendampingan koperasi di setiap bulannya.

-Lusi-

RAT Koperasi Perempuan (KPM)

Jum’at 9 Februari 2018 Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk tahun buku 2017. Kegiatan RAT dihadiri oleh sekitar 100 orang anggota Koperasi, dan tamu undangan. Tamu Undangan yang hadir dalam kegiatan RAT tersebut antara lain Kepala Dinas Koperasi & UKM Kabupaten Gunungkidul, Kasi PMD Kecamatan Ngawen, Kepala Desa Watusigar , dan Pendamping Koperasi YSKK. Rapat Anggota Tahunan Koperasi Perempuan tersebut dibuka langsung oleh Widagdo, selaku Kepala Dinas Koperasi & UMKM Kabupaten Gunungkidul. Dalam Sambutan pembukaannya, beliau mengatakan bahwasannya Koperasi Perempuan ini harus mampu mensejahterakan anggotanya, menolong anggotanya agar tidak terjerat bank plecit. Selain itu beliau juga mengajak kepada anggotanya, untuk bisa berperan aktif di Koperasi seperti jika memiliki pinjaman maka angsurannya harus lancar, mempercayakan uangnya di koperasi dengan menabung agar aset koperasi meningkat.

Selain sambutan dari Kepala Dinas Koperasi & UKM Kebupaten Gunungkidul, pada kesempatan tersebut pendamping dari YSKK yang diwakili oleh Bapak Ngatino Hadi, juga menyampaikan beberapa point penting sebagai bentuk motivasi bagi kemajuan koperasi. “Bahwasannya dalam kegiatan RAT seperti ini semua anggota bisa mengutarakan pendapatnya, uneg – unegnya terkait dengan kinerja koperasi, karena keputusan dan forum tertinggi di koperasi itu adalah pada saat RAT. ibu – ibu sebagai anggota Koperasi mempunyai hak dan kewajiban untuk melakukan pengawasan rutin kepada koperasi. Baik itu pengawasan administrasi dan juga keuangannya. Ibu – ibu semua harus tau jumlah Aset/ Kekayaan Koperasi Njenengan saat ini berapa, Piutang nya berapa, dan simpanannya juga berapa. Supaya jika terjadi kesalahan ataupun penyelewengan bisa segera diketahui” ungkap Bapak Ngatino Hadi.

Para Pihak (tamu Undangan) yang hadir dalam RAT Koperasi tersebut menyambut baik pelaksanaan RAT Kopwan KPM yang dilaksanakan di awal tahun. Indikasi berjalan dan tidaknya suatu organisasi (koperasi) adalah rutin tidaknya melakukan RAT. Dan ini merupakan RAT yang ke – 7 (tujuh) sejak Kopwan KPM dibentuk Tahun 2010, dari Laba yang hanya Rp.3.000.000, hingga saat ini laba yang dihasilkan koperasi sebesar Rp. 23.785.165.

Dalam RAT Koperasi KPM dilaporkan terkait dengan kinerja dari Koperasi (pengurus) selama tahun 2017. Seperti dengan jumlah anggota koperasi hingga akhir 2017, administrasi Koperasi, kegiatan pendidikan perkoperasian, laporan keuangan simpan pinjam dan laporan usaha dagang koperasi, serta dibahas juga rencana kegiatan dan anggaran koperasi untuk tahun 2018. Tahun 2017,  Laba Koperasi KPM sebesar Rp. 23.785.165, jumlah ini meningkat sekitar 20% dari Laba Tahun 2016. Sementara terkait dengan kondisi kredit Macet di Koperasi KPM masih dikisaran 20juta, meskipun sudah menurun (tahun 2016 : 31Juta) namun kredit macet ini masih menjadi PR yang harus segera diselesaikan oleh Koperasi. Harapannya di akhir Tahun 2018, jumlah Kredit Macet Koperasi hanya sebesar 3% saja.

 

 

Persiapan RAT 3 Koperasi Perempuan

Selama 3 (Tiga) Hari yaitu tanggal 23 – 25 Januari 2018 Pendamping YSKK, melakukan pendampingan secara intensif di 3 Koperasi Perempuan (Kopwan) dalam rangka persiapan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Tiga Koperasi Perempuan tersebut adalah Koperasi Perempuan Karya Perempuan Mandiri (KPM) di Desa Watusigar, Koperasi Perempuan Mitra Usaha Perempuan (MUP) di Desa Kampung dan Koperasi Perempuan Sekar Arum (SA) di Desa Semin. Persiapan yang dilakukan antara lain : Finalisasi dan kroscek laporan keuangan koperasi sejak januari – desember 2017, melihat capaian kerja koperasi baik itu capaian di kegiatan maupun capaian anggaran selama tahun 2017 , Menghitung Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi dan menyusun rumusan (deskripif) RAT.

Dari pendampingan persiapan RAT yang dilakukan setiap koperasi memiliki perkembangan (persiapan) yang berbeda – beda. Dari 3 Kopwan tersebut, Kopwan KPM yang membutuhkan waktu persiapan cukup lama, terutama dalam kroscek laporan keuangan dan finalisasi laporan keuangan, hal ini dikarenakan aktiva (kekayaan) Kopwan KPM sudah mencapai kisaran 250juta, dan jumlah piutang tahun 2017 sejumlah 180juta. Dengan kapasitas pengelola koperasi (bendahara) yang masih kurang mahir di dalam inputing pembukuan melalui komputer tentunya menghambat penyusunan laporan keuangan, karena baru dilakukan secara manual. Sedangkan untuk 2 Kopwan lainnya yaitu MUP dan SA cenderung sudah mampu menyusun laporan keuangan dengan mandiri hal ini dikarenakan selain aset yang dimiliki belum sebanyak aset KPM juga kemampuan pengelola koperasi (bendahara) yang sudah memiliki kemampuan cukup baik dalam inputing laporan keuangan ke dalam komputer.

RAT atau singkatan dari Rapat Anggota Tahunan merupakan agenda wajib setiap badan usaha koperasi, karena di dalamnya akan dibahas tentang pertanggunjawaban pengurus koperasi selama satu tahun kepada anggota koperasi yang bersangkutan. Dasar dari penyelenggaraan RAT adalah Permen Koperasi & UMKM Nomer 19 Tahun 2015 dimana disana dejelaskan hal – hal yang wajib dilakukan pada saat RAT antara lain seperti memberikan laporan keuangan tahunan koperasi kepada anggota, melaporkan segala aktivitas koperasi selama satu tahun dan menyepakati rencana keuangan dan anggaran koperasi untuk tahun yang akan datang.

Selama berdirinya hingga saat ini kurang lebih 6 tahuan, 2 Kopwan (KPM & MUP) sudah rutin melakukan RAT setiap tahunnya, sedangkan 1 Kopwan (SA) karena baru berdiri sejak 2014 maka baru 2 kali melaksanakan RAT. Pelaksanaan RAT di 3 Kopwan dilaksanakan kisaran antara bulan Januari – Februari (Awal Tahun), hal ini menyesuaikan dengan ketentuan Pelaksanaan RAT yang harus dilaksanakan maksimal bulan maret setiap tahunnya. Dengan melaksanakan RAT, tentunya hal ini menunjukkan bahwa 3 Koperasi Perempuan menjalankan tugas dan fungsinya sebagai Koperasi sesuai dengan peraturan perundangan yang ada, selain itu juga dengan dilaksanakan nya RAT merupakan bentuk kepercayaan anggota kepada Koperasi.