Archives

Pendampingan Pasca RAT Kopwan KPM

Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Perempuan Karya Perempuan Mandiri (KPM) untuk tahun buku 2017 sudah selesai dilaksanakan, namun bukan berarti pekerjaan rumah dari pengurus koperasi KPM selesai. Karena Pasca RAT ada banyak hal dari rekomendasi hasil RAT yang harus segera ditindak lanjuti. Dalam rangka menindak lanjuti hasil dari RAT tersebut maka Rabu, 14 Februari 2018 bertempat di Sekretariat Koperasi diselenggarakan Rapat Pengurus Bulanan. Rapat pengurus tersebut dihadiri oleh 5 orang pengurus Koperasi KPM, 1 orang pengawas koperasi dan 2 orang pendamping dari YSKK. Beberapa hal yang dibahas dalam Rapat Bulanan Pengurus tersebut antara lain : 1) Evaluasi Pelaksanaan RAT, 2) Menindaklanjuti usulan anggota pada saat RAT, 3) Target Koperasi Hingga Akhir 2018

Evaluasi Pelaksanaan RAT

Dalam evaluasi pelaksanaan RAT beberapa point yang menjadi bahasan antara lain :

  • Secara waktu pelaksanaan, RAT tahun buku 2017 sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, karena hanya molor sekitar 45 menit dari waktu yang direncanakan. Memang hal yang tidak bisa diprediksi adalah terkait dengan sambutan – sambutan dari para pihak yang hadir.
  • Terkait dengan Pembawa Acara (MC) nampaknya kurang mempersiapkan diri, sehingga nampak “Plegak – pleguk”ketika membawakan acara. Kedepan ketika akan RAT, maksimal sehari sebelum RAT semua unsur yang terlibat dalam pelaksanaan RAT harus mengikuti Breafing/ persiapan.
  • Koperasi belum mempersiapkan instrumen “Berita Acara” padahal instrumen ini penting untuk disiapkan, mengingat dalam pelaksanaan RAT menghasilkan beberapa keputusan – keputusan. seperti pengesahan laporan pertanggung jawaban pengurus koperasi, mandat anggota untuk pengurus, dll. Kedepan perlu dilist/ di daftar apa saja yang dibutuhkan dalam RAT sehingga tidak ada yang terlewat.
  • Pada saat pembagian transport dan SHU terlihat sangat tidak teratur, karena ada anggota yang pulang terlebih dahulu (acara belum selesai) yang kemudian mengganggu konsentrasi peserta yang lain. Kedepan ketika akan memulai acara RAT, perlu diumumkan (pada peserta RAT) bahwa transport dan SHU hanya akan dibagikan setelah acara RAT ditutup.

Secara umum pelaksanaan RAT tahun buku 2017 sudah jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, seperti terkait waktu sudah lebih tepat waktu, jumlah peserta RAT juga sudah lebih banyak yang hadir, namun memang persiapan RAT 2017 ini lebih panjang dari yang sebelumnya, dikarenakan laporan keuangan (khususnya) yang harus dikerjakan berulang – ulang kali.

Tindak Lanjut Usulan Anggota

Pada saat RAT, anggota mengajukan beberapa usulan terkait dengan kinerja koperasi tahun 2018. Usulan tersebut diantaranya :

  • Koperasi membuatkan Buku Simpanan Sukarela / Buku Tabungan untuk anggota, sehingga anggota mengetahui jumlah tabungan tanpa harus menanyakan kepada pengurus. usulan ini segera ditindak lanjuti pengurus, buku Tabungan anggota akan diterbitkan bulan Februari ini.
  • Setiap Pertemuan Rutin Bulanan Anggota Koperasi, selain ada arisan diwajibkan juga setiap anggota untuk menabung. Usulan ini akan dibahas kembali pada saat pertemuan anggota bulanan (rencananya bulan maret) terkait dengan minimal tabungan yang disetorkan.
  • Pada saat RAT, anggota memberikan mandat kepada pengurus koperasi untuk mengangkat pengawas, dan pengurus tambahan (jika diperlukan). 2 orang yang berpeluang menjadi pengawas saat ini sedang proses dihubungi langsung oleh ketua koperasi, melihat seberapa besar kemungkinannya untuk bergabung. dan hasilnya maksimal maret sudah ada keputusannya. Sedangkan tambahan pengurus yang dirasa perlu adalah terkait dengan sekretaris 2, mengingat Sekertaris 1 memiliki kesibukan yang super padat sehingga seringkali pekerjaan – pekerjaan sekertaris terabaikan. Dua posisi tersebut yaitu Pengawas dan Sekertaris diupayakan maksimal bulan Maret sudah ada orangnya.

Beberapa usulan anggota ini, sudah mulai ditindak lanjuti oleh pengurus koperasi, dan sudah ada pembagian peran di masing – masing pengurus untuk menindak lanjuti.

Target Koperasi Perempuan Hingga Akhir 2018

Dari pertemuan pengurus sempat didiskusikan beberapa target Kinerja Koperasi hingga akhir 2018 diantaranya :

  • Koperasi memiliki Kios untuk usaha dagang koperasi
  • Laba Koperasi Meningkat 50% dari laba tahun sebelumnya (laba koperasi 2017 Rp. 23,000.000)
  • Pembukuan Keuangan Koperasi, terekap dengan baik dan rapi sehingga persoalan “geseh”di akhir tahun tidak terjadi.
  • Memiliki 2 Pengawas dan 1 orang pengurus baru

Hasil – hasil dari Rapat ini kemudian akan menjadi acuan bagi Pengurus Koperasi dalam menjalan peran dan fungsinya. Sedangkan bagi YSKK, selaku pendamping ini menjadi bahan materi pendampingan koperasi di setiap bulannya.

-Lusi-

Advertisements

RAT Koperasi Perempuan (KPM)

Jum’at 9 Februari 2018 Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk tahun buku 2017. Kegiatan RAT dihadiri oleh sekitar 100 orang anggota Koperasi, dan tamu undangan. Tamu Undangan yang hadir dalam kegiatan RAT tersebut antara lain Kepala Dinas Koperasi & UKM Kabupaten Gunungkidul, Kasi PMD Kecamatan Ngawen, Kepala Desa Watusigar , dan Pendamping Koperasi YSKK. Rapat Anggota Tahunan Koperasi Perempuan tersebut dibuka langsung oleh Widagdo, selaku Kepala Dinas Koperasi & UMKM Kabupaten Gunungkidul. Dalam Sambutan pembukaannya, beliau mengatakan bahwasannya Koperasi Perempuan ini harus mampu mensejahterakan anggotanya, menolong anggotanya agar tidak terjerat bank plecit. Selain itu beliau juga mengajak kepada anggotanya, untuk bisa berperan aktif di Koperasi seperti jika memiliki pinjaman maka angsurannya harus lancar, mempercayakan uangnya di koperasi dengan menabung agar aset koperasi meningkat.

Selain sambutan dari Kepala Dinas Koperasi & UKM Kebupaten Gunungkidul, pada kesempatan tersebut pendamping dari YSKK yang diwakili oleh Bapak Ngatino Hadi, juga menyampaikan beberapa point penting sebagai bentuk motivasi bagi kemajuan koperasi. “Bahwasannya dalam kegiatan RAT seperti ini semua anggota bisa mengutarakan pendapatnya, uneg – unegnya terkait dengan kinerja koperasi, karena keputusan dan forum tertinggi di koperasi itu adalah pada saat RAT. ibu – ibu sebagai anggota Koperasi mempunyai hak dan kewajiban untuk melakukan pengawasan rutin kepada koperasi. Baik itu pengawasan administrasi dan juga keuangannya. Ibu – ibu semua harus tau jumlah Aset/ Kekayaan Koperasi Njenengan saat ini berapa, Piutang nya berapa, dan simpanannya juga berapa. Supaya jika terjadi kesalahan ataupun penyelewengan bisa segera diketahui” ungkap Bapak Ngatino Hadi.

Para Pihak (tamu Undangan) yang hadir dalam RAT Koperasi tersebut menyambut baik pelaksanaan RAT Kopwan KPM yang dilaksanakan di awal tahun. Indikasi berjalan dan tidaknya suatu organisasi (koperasi) adalah rutin tidaknya melakukan RAT. Dan ini merupakan RAT yang ke – 7 (tujuh) sejak Kopwan KPM dibentuk Tahun 2010, dari Laba yang hanya Rp.3.000.000, hingga saat ini laba yang dihasilkan koperasi sebesar Rp. 23.785.165.

Dalam RAT Koperasi KPM dilaporkan terkait dengan kinerja dari Koperasi (pengurus) selama tahun 2017. Seperti dengan jumlah anggota koperasi hingga akhir 2017, administrasi Koperasi, kegiatan pendidikan perkoperasian, laporan keuangan simpan pinjam dan laporan usaha dagang koperasi, serta dibahas juga rencana kegiatan dan anggaran koperasi untuk tahun 2018. Tahun 2017,  Laba Koperasi KPM sebesar Rp. 23.785.165, jumlah ini meningkat sekitar 20% dari Laba Tahun 2016. Sementara terkait dengan kondisi kredit Macet di Koperasi KPM masih dikisaran 20juta, meskipun sudah menurun (tahun 2016 : 31Juta) namun kredit macet ini masih menjadi PR yang harus segera diselesaikan oleh Koperasi. Harapannya di akhir Tahun 2018, jumlah Kredit Macet Koperasi hanya sebesar 3% saja.

 

 

Persiapan RAT 3 Koperasi Perempuan

Selama 3 (Tiga) Hari yaitu tanggal 23 – 25 Januari 2018 Pendamping YSKK, melakukan pendampingan secara intensif di 3 Koperasi Perempuan (Kopwan) dalam rangka persiapan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Tiga Koperasi Perempuan tersebut adalah Koperasi Perempuan Karya Perempuan Mandiri (KPM) di Desa Watusigar, Koperasi Perempuan Mitra Usaha Perempuan (MUP) di Desa Kampung dan Koperasi Perempuan Sekar Arum (SA) di Desa Semin. Persiapan yang dilakukan antara lain : Finalisasi dan kroscek laporan keuangan koperasi sejak januari – desember 2017, melihat capaian kerja koperasi baik itu capaian di kegiatan maupun capaian anggaran selama tahun 2017 , Menghitung Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi dan menyusun rumusan (deskripif) RAT.

Dari pendampingan persiapan RAT yang dilakukan setiap koperasi memiliki perkembangan (persiapan) yang berbeda – beda. Dari 3 Kopwan tersebut, Kopwan KPM yang membutuhkan waktu persiapan cukup lama, terutama dalam kroscek laporan keuangan dan finalisasi laporan keuangan, hal ini dikarenakan aktiva (kekayaan) Kopwan KPM sudah mencapai kisaran 250juta, dan jumlah piutang tahun 2017 sejumlah 180juta. Dengan kapasitas pengelola koperasi (bendahara) yang masih kurang mahir di dalam inputing pembukuan melalui komputer tentunya menghambat penyusunan laporan keuangan, karena baru dilakukan secara manual. Sedangkan untuk 2 Kopwan lainnya yaitu MUP dan SA cenderung sudah mampu menyusun laporan keuangan dengan mandiri hal ini dikarenakan selain aset yang dimiliki belum sebanyak aset KPM juga kemampuan pengelola koperasi (bendahara) yang sudah memiliki kemampuan cukup baik dalam inputing laporan keuangan ke dalam komputer.

RAT atau singkatan dari Rapat Anggota Tahunan merupakan agenda wajib setiap badan usaha koperasi, karena di dalamnya akan dibahas tentang pertanggunjawaban pengurus koperasi selama satu tahun kepada anggota koperasi yang bersangkutan. Dasar dari penyelenggaraan RAT adalah Permen Koperasi & UMKM Nomer 19 Tahun 2015 dimana disana dejelaskan hal – hal yang wajib dilakukan pada saat RAT antara lain seperti memberikan laporan keuangan tahunan koperasi kepada anggota, melaporkan segala aktivitas koperasi selama satu tahun dan menyepakati rencana keuangan dan anggaran koperasi untuk tahun yang akan datang.

Selama berdirinya hingga saat ini kurang lebih 6 tahuan, 2 Kopwan (KPM & MUP) sudah rutin melakukan RAT setiap tahunnya, sedangkan 1 Kopwan (SA) karena baru berdiri sejak 2014 maka baru 2 kali melaksanakan RAT. Pelaksanaan RAT di 3 Kopwan dilaksanakan kisaran antara bulan Januari – Februari (Awal Tahun), hal ini menyesuaikan dengan ketentuan Pelaksanaan RAT yang harus dilaksanakan maksimal bulan maret setiap tahunnya. Dengan melaksanakan RAT, tentunya hal ini menunjukkan bahwa 3 Koperasi Perempuan menjalankan tugas dan fungsinya sebagai Koperasi sesuai dengan peraturan perundangan yang ada, selain itu juga dengan dilaksanakan nya RAT merupakan bentuk kepercayaan anggota kepada Koperasi.

Pertemuan Bulanan Kopwan MUP

Rabu, 19 Juli 2017 diselenggarakan pertemuan pengurus Koperasi Mitra Usaha Perempuan (MUP) Desa Kampung Kecamatan Ngawen. Pertemuan yang diikuti oleh 7 orang pengurus Koperasi tersebut membahas antara lain tentang : Adanya undangan pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi DIY, Undangan kegiatan Pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Gunungkidul, Laporan Keuangan Koperasi dan yang terakhir adalah terkait dengan pengembangan usaha dagang koperasi. Pertemuan dilaksanakan dengan masing – masing bidang melaporkan hal – hal apa saja yang sudah dilakukan selama bulan Mei – Juni, dan apa saja yang masih menjadi kendala.

Terkait dengan undangan pelatihan dari Dinas Koperasi DIY rencananya akan diwakili oleh Ketua Koperasi mengingat tema yang diangkat dalam pelatihan adalah terkait tentang Managemen Resiko Bagi  Koperasi. sedangkan terkait dengan undangan pameran produk, untuk sementara Kopwan MUP tidak mengirimkan produk untuk dipamerkan mengingat minggu ini Desa Kampung akan menyelenggarakan syawalan dimana para warganya saat ini sedang disibukkan dengan persiapan syawalan, sehingga anggota kopwan MUP yang biasanya membuat produk makanan sementara sibuk membuat pesanan untuk syawalan.

Dua Pokok bahasan dalam rapat yang menjadi pembahasan cukup penting dan lama adalah terkait dengan keuangan koperasi dan pengembangan usaha. Untuk keuangan koperasi hingga bulan Juni 2017, Kopwan MUP hanya mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 7,7 Juta pendapatan ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pendapatan pada tahun 2016.  Dimana pada bulan Juni 2016 Kopwan MUP memiliki Pendapatan sebesar sekitar Rp. 9 Juta. Menurunnya pendapatan koperasi ini dikarenakan masih tingginya piutang tidak lancar (terutama selama bulan Mei – Juni), dan mulai dikeluarkannya biaya untuk insentif bagi pengurus setiap bulannya sebesar 20% dari pendapatan setiap bulan. Terkait dengan menurunnya pendapatan koperasi, hal yang kemudian menjadi rekomendasi dalam rapat untuk segera ditindak lanjuti adalah Bendahara Kopwan MUP wajib melakukan pemetaan Piutang anggota. Piutang Anggota diklasifikasikan dalam 4 Kategori, Piutang lancar, Piutang Kurang Lancar ( Piutang yang pembayarannya Kurang dari 3 bulan ), Piutang Tidak Lancar (Piutang yang pembayarannya lebih dari 3 bulan hingga maksimal 6 bulan), dan Piutang yang Macet (Piutang yang pembayarannya lebih dari 6 bulan). Klasifikasi piutang anggota ini perlu untuk dilakukan, untuk melihat pada klasifikasi yang mana akan dilakukan prioritas penagihan atau tindakan penagihan. Selain menurunnya pendapatan koperasi, jumlah permintaan pinjaman dengan jumlah keuangan koperasi yang tidak seimbang. Bulan Juli ini saja sudah ada permintaan pinjaman sebesar Rp. 8,5 Juta, namun keuangan koperasi hanya mampu memberikan pinjaman sebesar Rp. 2,5 Juta. Hal ini tentunya tidak akan terjadi jika pencatatan piutang dilakukan dengan sistematis.

Selanjutnya adalah terkait dengan pengembangan usaha Kopwan MUP. Selama ini Kopwan MUP mengembangkan usaha penggaduhan kambing, namun dari usaha tersebut kopwan MUP tidak mendapatkan hasil yang cukup baik bahkan cenderung merugi. Hal ini dikarenakan jangka waktu penggaduhan yang lama (tidak ada kesepakatan terkait waktu), dan penyakit kambing yang menyebabkan harga kambing menurun. Untuk mengatasi persoalan tersebut, dalam pertemuan pengurus disepakati bahwa mulai Juli 2017 Kopwan MUP tidak lagi mengembangkan usaha gaduhan kambing, namun lebih memilih usaha pengemukan kambing (kambing jantan). Usaha penggemukan kambing dirasa lebih mudah untuk dilakukan karena waktunya yang relatif lebih singkat, dan resiko penyakit juga lebih bisa diatasi karena kambing Jantan. Minimnya pendapatan Koperasi dari usaha dagang merupakan salah satu dari penyebab perkembangan aktiva/kekayaan koperasi sangat lambat.

Beberapa rekomendasi dari hasil pertemuan pengurus Kopwan MUP bulan Juli 2017 ini kemudian akan menjadi bahan monitoring dan evaluasi kinerja koperasi bulan selanjutnya. Titik kritis dari kondisi Koperasi MUP terletak pada kegiatan simpan pinjam yang berjalan sangat lambat. Koordinasi yang baik antar pengurus serta pencatatan pembukuan keuangan secara sistematis menjadi salah satu kunci agar kopwan MUP mampu keluar dari persoalan yang dihadapi.

-Lusi-

Koperasi Perempuan Yang Terus Berbenah

Salah satu indikasi eksistensi sebuah organisasi atau kelompok  adalah adanya pertemuan rutin. Karena dalam pertemuan tersebut biasanya akan dibahas segala hal yang terkait dengan organisasi, mengevaluasi kinerja dari organisasi secara periodik dan membahas rencana aksi/kegiatan yang akan dilakukan oleh organisasi. Hal tersebutlah yang juga dilakukaan oleh 2 (Dua) Koperasi #Perempuan yang didampingi oleh YSKK, yaitu Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) dan Koperasi Sekar Arum (SA) yang rutin melakukan pertemuan bulanan baik untuk pengurus maupun anggota koperasi.  Karena melalui pertemuan rutin pengurus koperasi inilah, Koperasi #Perempuan berbenah, berbenah terkait dengan kondisi internal koperasi dan berbenah terkait dengan aktivitas eksternal yang sudah dan akan dilakukan koperasi. Pembenahan koperasi dilakukan dalam rangka menuju Koperasi #Perempuan yang profesional.

Di Bulan April ini Koperasi KPM melaksanakan pertemuan rutin pengurus pada Jum’at 21 April 2017 sedangkan Koperasi SA melaksanakan pertemuan rutin pengurus pada Selasa 25 April 2017. Agenda Pertemuan rutin pengurus bulanan biasanya digunakan sebagai media untuk para pengurus koperasi saling berkomunikasi mengutarakan persoalan – persoalan yang sedang terjadi di koperasi, melaporkan kegiatan yang sudah dilaksanakan koperasi, melaporkan keuangan koperasi, dll. Sedangkan pada pertemuan anggota bulanan biasanya digunakan sebagai media untuk melakukan kegiatan simpan pinjam dan juga diskusi terkait dengan kegiatan usaha anggota yang biasanya diisi dengan praktek membuat makanan olahan.

Dalam setiap pertemuan rutin bulanan minimal ada 4 hal yang wajib menjadi materi bahasan  yaitu Keuangan Koperasi, Managemen Koperasi, Usaha Koperasi dan Jaringan Kerja Koperasi. Dalam pertemuan pengurus Koperasi di bulan april ini, selain membahas keempat hal tersebut diatas dibahas juga beberapa aktivitas lain yang sudah dan akan dilakukan oleh Koperasi.  Berikut adalah hasil dari pertemuan rutin bulanan pengurus Koperasi #Perempuan (KPM & SA) ;

  1. Terkait dengan keuangan koperasi per maret 2017 Koperasi KPM memiliki Jumlah Aktiva/kekayaan sebesar Rp. 197.535.089 dan laba sebesar Rp. 5.131.285. Sedangkan untuk koperasi SA memiliki Jumlah Aktiva/kekayaan sebesar rp. 27.317.695 dan laba sebesar Rp. 897.700. Dari catatan keuangan kedua koperasi per maret 2017 ini secara umum tidak ada yang berbeda dengan bulan – bulan sebelumnya. Sedikit hal yang disepakati untuk ditambahkan dalam pencatatan keuangan adalah,  untuk laporan keuangan bulan selanjutnya diharapkan melakukan pengklasifikasikan piutang anggota, yaitu kategori piutang lancar, kurang lancar, tidak lancar dan macet. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kesehatan keuangan koperasi.
  2. Terkait dengan managemen koperasi dalam hal ini administasi pembukuan dan pembagian kinerja dalam kepengurusan. Untuk KPM disepakati didalam kepengurusan akan ada tambahan sekretaris 2, hal ini penting untuk dilakukan mengingat kondisi sekertaris 1 KPM yang sangat sibuk dengan pekerjaannya mengakibatkan beberapa pengadministrasian koperasi terbengkalai.
  3. Sedangkan terkait dengan pengembangan usaha koperasi, untuk koperasi KPM akan mengganti pola pengembangan usaha, jika sebelumnya KPM mengangkat orang khusus untuk memproduksi makanan olahan namun mulai april 2017 KPM akan lebih banyak berperan sebagai pemasaran/marketing produk dari anggota. Sedangkan untuk koperasi SA berencana akan mengajukan proposal bantuan alat – alat produksi makanan ke Dinas Perdagangan, dimana alat – alat hasil produksi tersebut kemudian akan disewakan kepada para anggota yang membutuhkan.
  4. Di bulan april ini, Koperasi KPM mendapatkan undangan diskusi dari Dinas Koperasi & UMKM Kabupaten Gunungkidul. Diskusi terkait dengan penilaian kesehatan Koperasi. Dari diskusi tersebut didapatkan informasi bahwasannya laporan tahunan koperasi (laporan RAT) mulai tahun 2017 dilampirkan dengan penilaian kesehatan koperasi yang dilakukan secara internal oleh koperasi itu sendiri. Penilaian kesehatan koperasi ini sangat penting untuk mengetahui tingkat kesehatan koperasi dari beberapa aspek. Untuk mengetahui hal – hal apa saja yang dinilai dalam penilaian kesehatan koperasi dapat mengacu pada Peraturan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI No : 06/Per/Dep.6/IV/2016 Tentang Pedoman Penilaian Koperasi Simpan Pinjam Dan Unit Simpan Pinjam Koperasi.
  5. Selain beberapa hal tersebut diatas ada juga pembahasan terkait dengan adanya usulan dari anggota koperasi Sekar Arum terkait dengan ketentuan denda yang memberatkan anggota. Dimana dalam AD/ART Koperasi SA bahwa dendaa diberikan kepada anggota/peminjam yang terlambat dalam membayar piutang setiap bulannya, besarnya denda adalah 1x bunga (disesuaikan dengan bunga yang diterima oleh masing – masing anggota). Karena ketentuan denda sudah tercantum dalam AD/ART koperasi maka ketentuan ini baru akan dirubah pada saat RAT.

Beberapa hasil dan Rekomendasi pertemuan pengurus tersebut akan menjadi acuan kinerja koperasi di bulan selanjutnya, yang kemudian akan menjadi bahan evaluasi pada Mei. Menuju koperasi #Perempuan yang profesional memang tidak mudah untuk dilakukan. Ditambah lagi 2 (dua) koperasi #Perempuan yang didampingi YSKK tidak dikelola oleh tenaga – tenaga profesional yang berlatar belakang sarjana ekonomi, namun Koperasi #Perempuan ini dikelola oleh perempuan – perempuan desa dengan berlatar belakang “Niat & Kemauan” yang mana masih perlu banyak belajar. Sehingga setiap bulan sembari berupaya untuk mengelola Koperasi, para pengurus Koperasi #Perempuan ini juga terus belajar, membenahi dan mengelola Koperasi sesuai dengan layaknya Koperasi – Koperasi yang ada, sesuai dengan peraturan perundangan perkoperasian yang ada.

Pendampingan Koperasi Perempuan

Menggunakan pendekatan ABCD (Asset Based Community Development)  YSKK menginisiasi 3 Koperasi perempuan dengan menggunakan potensi atau modality yang sudah ada di masyarakat. 3 Koperasi Perempuan yang diinisiasi di Kabupaten Gunungkidul  bukanlah merupakan kelompok yang baru, namun kelompok perempuan yang sudah ada di desa yang kemudian “dinaikkan kelasnya “, menjadi organisasi keuangan yang berbadan hukum yang kemudian diberi nama Koperasi Serba Usaha (KSU) dimana pengelola dan anggotanya adalah khusus perempuan. 2 Koperasi lahir pada tahun 2011 yaitu Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) yang jumlah kekayaannya saat ini kurang lebih adalah Rp. 200 Juta, dan Koperasi  Mitra Usaha Perempuan (MUP) yang jumlah kekayaannya saat ini kurang lebih Rp.110 Juta. Sedangkan 1 Koperasi perempuan yang lahir tahun 2015 adalah Koperasi Sekar Arum (SA), yang jumlah kekayaannya saat ini adalah Rp.27 juta. Di dalam perkembangannya ketiga koperasi ini rutin mendapatkan pendampingan dan monitoring dari YSKK hingga saat ini. Pendampingan dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab YSKK karena sudah menginisiasi sebuah lembaga keuangan di tengah – tengah masyarakat. Pendampingan yang dilakukan seperti penguatan kapasitas bagi pengelola/pengurus dan pengawas koperasi, pemberian softloan (pinjaman lunak), pengadministrasian laporan keuangan koperasi dari yang manual (pencatatan buku) hingga pencatatan menggunakan komputer, pendampingan untuk berjejaring dengan pihak – pihak terkait seperti dinas koperasi, dinas perdagangan, dll, dan pendampingan terkait dengan managemen Koperasi.

Pendampingan dan monitoring yang dilakukan untuk ketiga koperasi tentunya dilakukan secara bertahap, dimana dalam setiap bulannya ada prioritas pendampingan yang dilakukan di masing – masing koperasi. Sedangkan untuk fokus pendampingan 3 koperasi di bulan April 2017 ini adalah terkait dengan :

  1. Pelatihan penggunakan excel bagi bendahara 2 koperasi. Hal ini dilakukan karena selama ini yang mampu menggunakan komputer untuk pembukuan keuangan hanya dilakukan oleh bendahara 1 saja, bahkan dari 7 pengurus/ pengelola koperasi hanya 1 orang yang mampu menggunakan komputer untuk melakukan input laporan keuangan. Hal ini tentu saja menghambat penyusunan laporan keuangan koperasi yang setiap bulannya harus dikirim ke dinas maupun ke pihak – pihak yang lain karena harus menunggu bendahara 1 menyelesaikan laporan keuangan. Strategi yang coba dilakukan untuk melatih inputing data bagi bendahara 2 koperasi adalah dengan memberikan tugas (praktek) inputing laporan keuangan bulan maret (buku uang masuk, uang keluar, pencatatan simpanan, dan neraca) saat pendampingan lapangan.
  2. Identifikasi kredit macet berdasarkan tahapan (kredit lancar, kredit kurang lancar, kredit tidak lancar dan kredit macet). Identifikasi ini perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah kredit macet yang ada di masing – masing koperasi. Aktivitas teknis yang kemudian dilakukan adalah melakukan pendataan kredit dari masing – masing anggota. Pendataan ini sudah mulai dilakukan di minggu kedua april, dan targetnya pada minggu ketiga april aktivitas ini selesai, sehingga dapat digunakan dalam koordinasi pengurus koperasi di bulan April.

Jika melihat fokus pendampingan yang dilakukan nampaknya mudah untuk dilakukan, namun hal tersebut menjadi tidak mudah jika yang dihadapi adalah ibu – ibu/ perempuan yang kesehariannya lebih banyak waktunya untuk bekerja di ladang, pasar, atau didapur (usaha makanan). Terlebih lagi pengelola dari 3 Koperasi perempuan tersebut adalah orang – orang yang (awalnya) belum berpengalaman dalam hal perkoperasian, memiliki aktivitas rutin harian yang harus dilakukan  dan  pengelolaan koperasi lebih banyak bersifat sukarela ketimbang profesional.  Sukarela karena hak yang diterima oleh pengelola tidak sebanding dengan kewajiban yang harus dilakukan oleh para pengelola tersebut, selain itu pengelolaan koperasinya pun bukan menjadi aktivitas harian bagi para pengelolanya. karena ketiga koperasi hanya buka seminggu sekali, mengingat kesibukan (pekerjaan) dari para pengelolaanya.

Menuju  koperasi Perempuan yang profesional, hal tersebut merupakan impian dari pengelola koperasi, namun hal tersebut dilakukan secara bertahap dan pembenahan yang ada dilakukan secara terus menerus. Dari yang awalnya sulit melakukan pertemuan pengelola koperasi setiap bulan, saat ini sudah rutin dilakukan bahkan pertemuan anggota pun rutin dilakukan. Dari penyusunan laporan keuangan bulanan yang selalu terlambat saat ini sudah mulai tertip dilakukan setiap bulannya, dari pembukuan administrasi yang belum tertip dan rapi saat ini sudah mulai rapi, dari yang belum memiliki perencanaan anggaran setiap bulannya saat ini sudah dimulai untuk menyusun perencanaan anggaran disetiap bulannya, serta dari kegiatan usaha yang sempat terhenti saat ini perlahan sudah mulai berjalan. Hal – hal sederhana tersebutlah yang jika kemudian rutin dilakukan akan memperlihatkan bedanya koperasi yang selama ini didampingi YSKK dengan koperasi yang lain.

Lebih dari 15 tahun kiranya, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) melakukan inisiasi dan mendampingi Koperasi. Dari Koperasi yang sifatnya umum, yaitu semua orang (laki laki & perempuan) bisa mengakses, Koperasi Khusus seperti Koperasi Pengusaha Gerabah di NTB, Koperasi khusus para pengerajin Tenun di NTT dan Koperasi Perempuan di Kabupaten Gunungkidul. Jangan dibayangkan jika koperasi – koperasi yang dibentuk tersebut diisi oleh pengelola atau orang – orang yang profesional dan berpengalaman. Koperasi koperasi tersebut dikelola oleh masyarakat sekitar yang bisa dikatakan baru sekali dalam hal koperasi (ketika saat pembentukan), belum berpengalaman, belum paham pembukuan koperasi,  belum paham bagaimana koperasi ini akan berjalan, bahkan gaptek (gagap teknologi) dalam penggunaan komputer. Namun karena memiliki kemauan yang keras untuk memajukan koperasi dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya, koperasi koperasi tersebut berupaya untuk menjadi lebih baik.  Pun demikian dengan 3 koperasi perempuan yang diinisiasi YSKK di Kabupaten Gunungkidul. Dengan segala keterbatasan yang ada, Melalui pendampingan dan monitoring yang rutin dilakukan oleh tim program dari YSKK serta kemauan yang tinggi dari pengelola dan anggota koperasi, ketiga koperasi perempuan ini masih terus menunjukkan eksistensinya ditengah ramainya persaingan kegiatan microfinance saat ini.

 

Magnet Arisan & Simpan Pinjam Dalam Kegiatan Perempuan

IMG_5860.jpgDalam Kegiatan Kelompok Perempuan baik itu di desa maupun di kota, kegiatan Arisan dan Simpan Pinjam pastinya akan kita temui. Baik itu kegiatan yang diselenggarakan oleh PKK (Desa – Dusun-  Dasawisma), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Kesenian Perempuan, dll. Nampaknya magnet dari kegiatan arisan dan simpan pinjam masih dirasa cukup ampuh untuk menarik minat masyarakat (perempuan) untuk terlibat aktif dalam kegiatan suatu kelompok. Setidaknya realita inilah yang saya temui pada saat kegiatan konsolidasi kelompok kelompok perempuan di 5 Desa baru baru ini. Karena dalam presentasi yang dilakukan oleh perwakilan dari pengurus kelompok saat diberikan waktu untuk sharing kegiatan kelompoknya, hampir semua kelompok menjelaskan bahwasannya kegiatan arisan dan simpan pinjam merupakan salah satu dari sekian banyak kegiatan yang ada dalam kelompoknya. Fakta ini menjelaskan bahwa kegiatan Arisan dan Simpan Pinjam belum bisa terlepas dari kegiatan yang dilakukan kelompok perempuan. Malahan bisa jadi kegiatan arisan dan Simpan Pinjam menjadi kegiatan utama dalam kegiatan kelompok setiap bulannya. Seperti halnya Kelompok Perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT), logikanya ketika perempuan tergabung dalam KWT maka aktivitas utama yang dilakukan adalah seperti penanaman lahan bersama, atau penjualan hasil panen secara bersama atau juga pembibitan. Namun fakta yang ditemui di beberapa KWT justru kegiatan yang ada dan nampak adalah kegiatan arisan dan simpan pinjam perempuan belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pertanian.

Pengertian arisan sendiri menurut laman Wikipedia adalah kelompok orang yang mengumpulkan uang secara teratur pada tiap – tiap periode tertentu, dimana setelah uang terkumpul, salah satu dari anggota kelompok akan keluar sebagai pemenang. Jika menggunakan bahasa dari ibu – ibu anggota kelompok, sebenarnya arisan lebih pada sebuah metode menabung yang mudah dilakukan tanpa khawatir untuk mengambilnya (sewaktu – waktu) karena ada kesepakatan bersama ketika akan mengambilnya. Karena jika seseorang sudah melakukan akad dalam arisan maka secara sadar harus mengumpulkan uang sesuai dengan kesepakatan kelompok. Arisan yang dilakukan di kelompok perempuan desa tidak hanya dalam bentuk uang namun ada juga arisan dalam bentuk barang ataupun bahan pokok seperti beras, gula, minyak, dll. Sedikit berbeda dengan arisan, Simpan Pinjam sendiri memiliki pengertian simpanan yang dikumpulkan bersama dan dipinjamkan kepada anggota yang membutuhkan dengan bunga/jasa tertentu (biasanya dalam kelompok bisa 2 – 3%). Simpan Pinjam yang umumnya dilakukan di kelompok perempuan, ada yang menggunakan sumber uang atau modal dari tabungan dan iuran anggotanya yang kemudian diputar untuk disimpan pinjamkan, Ada juga yang memang kelompok tersebut meminjam modal (pinjaman) kepada pihak lain. Biasanya pinjaman kelompok berasal dari pemerintah desa, UPK PNPM, atau Lembaga Keuangan Mikro setempat yang tidak membutuhkan prasyarat yang rumit saat kelompok perempuan akan mengajukan pinjaman. Seperti tidak dibutuhkannya badan hukum kelompok saat akan mengajukan pinjaman atau bahkan seringkali kelompok perempuan tersebut ditawari pinjaman. Yang kemudian pinjaman tersebut diputar dilingkup kelompok, ada yang kemudian dipinjamkan sesuai kebutuhan anggota, namun juga ada yang dipinjamkan secara rata (semua anggota) baik yang memang membutuhkan pinjaman ataupun tidak.

Namun seringkali Kelompok Perempuan yang ada di desa melupakan makna sesungguhnya akan terbentuknya suatu kelompok karena terlalu disibukkan dengan kegiatan arisan dan simpan pinjam tersebut. Setidaknya beberapa kelompok yang saya temui saat konsolidasi menceritakan bahwa dari semua kegiatan yang ada dalam kelompoknya, hanya kegiatan arisan dan simpan pinjam yang dapat berjalan dengan baik. Kegiatan lain seperti pembuatan olahan makanan bersama (produksi & penjualan), penggarapan lahan bersama (seperti KWT), dan pembahasan persoalan perempuan dan anak di desa menjadi hambar dan kurang bermakna didalam aktivitasnya karena setiap anggota yang hadir lebih berorientasi pada kegiatan arisan dan simpan pinjamnya.

Makna terbentuknya Kelompok Perempuan di desa (khususnya) harusnya lebih pada bagaimana perempuan secara berkelompok mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki. Karena biasanya potensi – potensi perempuan akan muncul ketika dilakukan kegiatan bersama, saling tukar ide dan pengalaman. Seperti kegiatan olahan makanan, yang jika dilakukan secara pribadi mungkin kurang bergairah, namun ketika dilakukan secara berkelompok dimana disana ada pembagian tugas yang jelas maka akan lebih bergairah dan membawa manfaat yang lebih. Terlebih lagi saat ini, sudah banyak kelompok perempuan yang mendapatkan bantuan teknologi tepat guna (TTG) untuk memproduksi makanan olahan. Namun sayangnya hal ini belum bisa dioptimalkan dengan baik.

“ Kelompok Kami sudah mendapatkan bantuan dari Pemerintah seperti alat pemotong singkong, pisang, dll, kemudian wajan penggorengan yang besar dan spinner. Tapi ya kegiatan pembuatan olahan makanan sejauh ini baru dilakukan dalam skala kecil. Seperti kita melakukan produksi sebulan sekali saat ada pertemuan kelompok, kemudian hasil produksi tersebut kelompok kami sendiri yang membeli. Seandainya dijual keluar ya baru dititipkan warung – warung disekitar” ungkap Ibu Daryanti Seorang anggota kelompok olahan makanan.

Arisan dan Simpan Pinjam dalam kegiatan perempuan memang sulit untuk dilepaskan, karena suka ataupun tidak suka dua kegiatan ini membawa daya tarik / magnet tersendiri untuk mendatangkan masa/anggota kelompok untuk mau hadir dalam kegiatan dan pertemuan kelompok. Hal tersebut tentu tidak lah salah, justru ketika memang kedua kegiatan tersebut dirasa menjadi strategi dalam menarik minat anggota kelompok untuk hadir maka perlu untuk diselenggarakan. Namun akan lebih baik jika kedua kegiatan tersebut hanya lah sebagai pemanis dalam setiap kegiatan kelompok. Tanpa mengurangi maksud dan tujuan dari keberadaan kelompok perempuan tersebut. Seperti kelompok perempuan kesenian (Karawitan, Hadrah/ Khasidahan) yang pastinya kegiatan utamanya berkaitan dengan latihan memainkan gamelan, mengikuti pentas/pertunjukan di beberapa tempat, dan promosi dari kegiatan kesenian kelompoknya, maka jika di dalam kelompok tersebut ada kegiatan arisan dan simpan pinjam bentuk nya hanyalah pemanis dalam kelompok kesenian tersebut. Begitu pula dengan KWT dan kelompok perempuan olahan makanan, kedua kelompok perempuan ini hadir salah satu tujuan utamanya adalah meningkatkan perekonomian keluarga melalui kegiatan ekonomi perempuan. Maka akan sangat menarik jika di dalam kegiatannya terkait dengan bagaimana meningkatkan kualitas makanan olahan agar diterima pasar, bagaimana mendapatkan peluang pasar, bagaimana meningkatkan volume produksi dan penjualan, dll.

Label nama dalam sebuah kelompok sejatinya mencerminkan apa dan bagaimana kelompok tersebut, namun seringkali label nama kelompok tidak seiring sejalan dengan aktivitas yang dilakukan kelompok. Lahirnya kelompok perempuan yang ada di desa dengan berbagai label nama yang melekat menunjukkan betapa desa kaya akan potensi masyarakatnya. Perlu nya sedikit perhatian dari pemerintah setempat terkait dengan keberadaan dan eksistensi dari kelompok – kelompok perempuan tersebut menjadi mutlak untuk dilakukan. Karena pemerintah setempat yang berkewajiban membimbing dan mendampingi perkembangan dari kelompok yang ada. Jangan sampai banyaknya kelompok perempuan yang ada di desa, hanya akan menambah beban perempuan (khususnya) karena terlalu banyak kegiatan arisan dan simpan pinjam yang mereka ikuti. Karena kedua kegiatan ini seyogyanya hanyalah kegiatan pemanis dalam kegiatan yang ada di kelompok perempuan bukan kegiatan utama.