Archives

Hak Politik Perempuan

Doc.Google

Doc.Google

Sebagai warga negara, setiap orang memiliki hak-hak dasar yang harus dipenuhi oleh negara dimana hak-hak tersebut  terklasifikasikan  dalam 3 kategori besar (menurut HAM) : 1). Hak Sipil yaitu hak seseorang untuk dilindungi dari tindakan sewenang-wenang pemerintah dalam kemerdekaan hidupnya dan  rasa aman, kebebasan bergerak, hak atas proses hukum yang adil, hak berpikir, berkesadaran dan beragama atau berkeyakinan, dan sebagainya., 2). Hak Politik yaitu hak seseorang untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan, seperti hak memilih dan dipilih, kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat di depan umum. dan , 3). Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Hak Ekosob) yaitu hak seseorang untuk meningkatkan standar kehidupan yang layak, misalnya hak atas pendidikan, pekerjaan, kesehatan, perumahan, penggunaan bahasa dan tradisi.

Secara Khusus, hak politik perempuan dalam DUHAM tertuang dalam pasal 2: “setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Deklarasi ini tanpa perkecualian  apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang berlainan, asal  mula kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran, ataupun kedudukan lain.” Sedangkan, Deklarasi New Delhi tahun 1997 menegaskan, hak politik perempuan harus dipandang sebagai bagian integral dari hak asasi manusia (HAM).

Hak politik perempuan tidak boleh dipisahkan dari HAM. Sebagai manusia, perempuan berhak berkiprah dalam politik seperti laki-laki. Politik harus melibatkan perempuan dan laki-laki sebagai subyek. Sejatinya, setiap perempuan, baik sebagai warga negara maupun sebagai manusia menyadari akan hak politik mereka, demikian pula potensi-potensi yang terkandung di balik hak-hak tersebut.

Tantangan terbesar perempuan ketika akan masuk dalam politik adalah masih tingginya budaya patriarki di masyarakat. Budaya patriarki yang dominan dalam realitas masyarakat bahkan negara, mengakibatkan tidak mudah mengubah pandangan bahwa politik adalah wilayah publik yang penting dan bisa dimasuki oleh perempuan. Akibat nya jumlah perempuan berpotensi di bidang ini masih sedikit untuk mampu berkompetisi dengan laki – laki yang selama ini dikonstruksikan untuk lebih maju dari perempuan. Animo perempuan untuk memasuki wilayah publik ini memang sudah meningkat, akan tetapi prosentasinya masih rendah walau sudah dijamin oleh ketentuan undang – undang.

Relitas di lapangan menunjukkan pada tahun 2014 di Indonesia baru memiliki 1 gubernur perempuan dari 33 Provinsi, 12 perempuan menjadi bupati/walikota dari sekitar 500 kabupaten/kota, dari sekian banyak partai politik tercatat tidak lebih dari 5 perempuan menjadi ketua partai politik. Dikonteks Kabupaten Gunungkidul memiliki 6 Kepala Desa perempuan dari 144 desa atau sekitar 4,1 %. 272 Perangkat desa perempuan dari total 2764 perangkat desa di seluruh Kabupaten Gunungkidul atau sekitar 9,8%. 120 BPD perempuan dari total 1534 BPD seKabupaten Gunungkidul atau sekitar 7,8%.  Jumlah yang minim ini pun masih dilengkapi dengan kondisi bahwa belum sepenuhnya perempuan tersebut berperan optimal sebagai agen perubahan dan pengambil kebijakan yang berkualitas.

Melihat realita yang ada maka tindakan khusus untuk perempuan agar terlibat dalam politik ternyata masih perlu diupayakan. Bahwa setiap warganegara baik perempuan dan laki-laki punya hak yang sama. Namun upaya mewujudkan kesamaan itu tidak akan tercapai bila mengabaikan persoalan mendasar perempuan. Sama dan setara dalam politik tidak akan berarti apa-apa ketika perempuan masih terbelenggu oleh konstruksi sosial dan terbatas dalam mengakses hak politik.

Advertisements

Gadget Untuk Anakku

Dok.Google.comMelihat senyum menghiasi wajah seorang anak adalah sebuah kebahagiaan yang menyejukkan hati bagi siapa saja yang melihatnya. Serasa tak ada beban dalam hidup ini, mungkin itu seolah olah dapat digambarkan. Memang jika kita ingin sejenak melupakan permasalahan hidup yang ada kita dapat memandang wajah anak – anak, atau buah hati kita. Karena disana terpancar aura kejujuran dan ketulusan. Maka sebagai orang tua akan sangat bijak untuk kita selalu memberikan yang terbaik bagi anak. Memberikan yang terbaik bagi anak adalah memberikan hal yang memang anak – anak butuhkan. Bukan barang mahal, mewah atau bahkan barang yang mereka inginkan.

Zaman serba canggih saat ini, tidak sedikit orang tua yang melengkapi anaknya dengan alat – alat teknologi yang canggih dan modern seperti Handphone, Tablet, Ipad, dan jenis gadget lainnya. Tanpa tahu berapa usia anak yang pas untuk bisa memiliki barang tersebut diatas. Dengan alasan “agar anaknya melek teknologi, tidak gaptek, tidak kalah dengan anak – anak zaman sekarang” para orang tua saat ini cenderung sudah mengenalkan anak akan barang – barang tersebut sejak usia balita. “Bayi mana saat ini yang tidak kenal akan Handphone” ujar seorang ibu.

Dibalik pengenalan ataupun pemberian barang – barang berteknologi cangih tersebut kepada anak, banyak sisi negatif yang muncul dalam perkembangan anak kedepan mengingat sang anak memang belum cukup matang untuk menerima benda – benda tersebut. Seperti, Pertama Anak kecenderungan memiliki sikap egois karena barang tersebut lebih bisa dimainkan secara individu. Game di gadget kebanyakan adalah permainan yang hanya dilakukan oleh anak sendiri atau jika tidak anak vs gadget yang bermain. Kedua Anak Kurang bisa bergaul karena ia hanya berhadapan dengan benda mati. Ya benda mati yang memiliki fitur canggih Ketiga Anak menjadi kurang kreatif karena fitur – fitur yang ada dalam teknologi tersebut sangat lengkap dan memudahkan si penggunanya.  Keempat, Jika terlalu sering digunakan dapat merusak kesehatan seperti mata, syaraf dan otak karena adanya kontaminasi radiasi dari pencahayaan.

Memaksimalkan tumbuh kembang anak adalah kewajiban orang tua, dan dalam rangka memenuhi hal tersebut tentunya orang tua harus paham apa saja yang sebaiknya dikenalkan dan diberikan oleh anak. Memberikan barang – barang berteknologi canggih kepada anak adalah sesuatu yang tidak salah asalkan sesuai dengan porsinya. Dan tidak lupa adalah memberikan pendampingan ketika anak menggunakan baik pendampingan secara langsung maupun tidak langsung. Karena bagaimanapun kenakalan yang terjadi pada anak bukanlah salah sang anak, tetapi kesalahan lingkungan yang mendidiknya.

4 Alasan Untuk Tidak Menggunakan Bahasa Kasar di Depan Anak

2480Sebagai Orang Tua, kita harus berusaha menampilkan perilaku sopan saat berada di depan anak – anak. Kita harus ingat, bahwa anak akan mendengarkan suatu kata tertentu untuk pertama kalinya, yang boleh jadi kata tersebut adalah kata yang kasar atau bahkan jorok ! Dikhawatirkan, anak akan mengulangi perkataan tersebut, lain waktu, tanpa kita.

Berikut 4 alasan mengapa kita harus menghindari penggunaan kata – kata kasar (unparliamentary) di depan anak – anak :

1. Bahasa adalah anugerah

Setiap orang mengekspresikan dirinya melalui bahasa. Oleh karena itu, bahasa yang baik adalah hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada anak. Kita harus memastikan bahwa anak kita mampu berbicara dengan bahasa yang menarik bagi semua orang di sekitarnya. Bayangkan jika anak kita akan merasa terasing di sekolah atau pergaulannya karena penggunaan kosa kata yang kasar, jorok, atau…. kampungan ! kita tentu akan merasa sedih dan malu sendiri.

2. Kata yang buruk mengindikasikan budaya rumah yang buruk

Berbicara dengan kosakata yang buruk/kasar dapat mengindikasikan buruknya budaya yang berlaku di rumah kita. meskipun , belum tentu kita telah melakukan pola pengasuhan yang salah pada anak, tetapi penggunaan kata – kata buruk yang biasa diucapkan oleh anak kita dapat memberikan citra negatif untuk keluarga kita. Apakah kita mau memberi sinyal yang salah pada orang lain mengenai keluarga kita.

3. Perhatian pada lingkungan

Hidup adalah sebuah fenomena yang selalu berubah. anak kita harus berinteraksi dengan berbagai jenis orang, dalam dan luar rumah. sementara orang mungkin memahami psikologi di balik kata – kata umpatan yang kita ucapkan, beberapa yang lain mungkin akan tersinggung. Langkah terbaik adalah mengambil cara aman, menggunakan kosakata yang baik dan sopan saat kita berbicara dengan siapa saja.

4. Kata kasar mencerminkan manajemen emosi yang buruk

Generasi mendatang akan sangat bergantung pada kemampuan interaksi mereka dalam melakukan kegiatan profesional mereka. Komunikasi antarpribadi yang efektif secara alami akan mengarah ke tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.

Karena itu jika ingin anak kita nanti menjadi komunikator sukses, disarankan untuk memeriksa kembali kata – kata yang biasa kita gunakan sekarang.

Sumber Pustaka : Andri Priyatna”Parenting for Character Building, Penerbit PT Elex Media Komputindo 2011

9 ALASAN UNTUK TIDAK MEMUKUL ANAK

IMG_0002

Dok.YSKK 2011

1. Memukul Anak , Sama dengan mengajari anak untuk memukul dirinya sendiri

Bila dicermati, anak akan belajar sikap dan perilaku melalui pengamatan dan peniruan dari rang tua atau yang mengasuhnya, tidak peduli apakah tindakannya/perilaku tersebut baik atau buruk.oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk menetapkan seperangkat contoh sikap empati dan kebijaksanaan.

2. Pada banyak kasus, yang disebut “perilaku buruk” itu hanyalah respons anak terhadap apa yang TIDAK dia peroleh dari lingkungannya.

Diantara kebutuhan – kebutuhan penting anak – anak adalah : tidur dan asupan gizi yang cukup, pengobatan alergi tersembunyi, udara segar, olahraga, dan kebebasan yang cukup untuk menjelajahi dunia yang ada disekelilingnya.

Tapi kebutuhan yang terbesar sejatinya adalah mendapat perhatian penuh (undivided attention) dari orang tuanya. Orang tua yang sibuk, anak kadang tidak cukup mendapat waktu dan perhatian dari orang tua mereka, yang sering kali terlalu terganggu oleh kesibukan mereka sendiri. Oleh karena itu, pasti salah dan tidak adil untuk menghukum anak saat mereka memberi respons alami karena kebutuhan – kebutuhan penting mereka diabaikan oleh orang tua

3. Pemberian hukuman fisik akan mengecoh anak dari belajar bagaimana menyelesaikan konflik secara efektif dan manusiawi

Ketika kita membuat anak takut, kita seolah menstop seluruh pelajaran yang kita berikan kepada mereka.anak yang sedang mnerima hukuman akan dipenuhi perasaan marah dan fantasi balas dendam. Dengan demikian, hilanglah kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang metode yang lebih efektif dalam memecahkan suatu masalah.

Jadi seorang anakmendapat hukuman fisik, maka diahanya akan belajar sedikit tentang bagaimana menangani atau mencegah situasi serupa di masa mendatang.

4. Hukuman fisik akan merusak ikatan antara orang tua dan anak

Semangat sejati dari kerja sama yang diharapkan setiap orang tua hanya akan tumbuh bila dilandasi ikatan cinta dan respek yang kuat antara orang tua – anak.

Sedangkan pemberian hukuman fisik, meskipun sepintas tampak efektif, hanya akan menghasilkan perilaku baik berlandaskan rasa takut, yang mudah sekali luntur kembali begitu si anak mulai tumbuh dewasa dan”tahan menderita”

Sebaliknya, kerja sama yang didasarkan pada respek mutual orang tua – anak, akan tumbuh secara lebih permanen. Bahkan sampai si anak tumbuh dewasa dan orang tuanya mulai renta.

5. Hukuman fisik beresiko berbahaya

Ketika hukuman fisik tidak lagi mencapai tujuan yang diinginkan, dan jika orang tua tidak juga menyadari untuk memilih metode alternatif lain, maka hukuman fisik akan terus meningkat. Dimana efeknya tentu dapat membahayakan anak, baik fisik maupun mental.

6. Berpotensi menciptakan :”Api dalam sekam”

Kemarahan dan frustasi tidak mudah diungkapkan oleh anak, dan mereka akan terus menyimpannya dalam – dalam. Suatu hari nanti saat anak cukup umur dan cukup kuat untuk menampilkan kemarahan, maka dia pun akan melakukan “Aksi Balas dendam”. Hukuman fisik mungkin dapat menghasilkan “Perilaku yang baik” untuk sementara, tetapi akan meminta harga yang tinggi. Dimana harga ini harus dibayar tidak hanya oleh orang tua dari anak tersebut, tetapi mungkin oleh… siapa saja yang nanti akan berhubungan dengan anak kita.

7. Dapat beresiko menimbulkan perilaku seksual menyimpang

Memukul pantat, yang notabene adalah zona erotis masa kanak – kanak, dapat memicu timbulnya asosiasi antara rasa sakit dan kenikmatan seksual pada pikiran anak, di mana dalam hal ini dapat menimbulkan masalah kelak setelah ia dewasa.

Jika seorang anak hanya mendapat sedikit atensi orang tua, atau bahkan hanya mendapat perhatian pada saat dia dihukum, maka lambat laun dia akan menggabungkan konsep rasa sakit dengan kesenangan. Anak dengan situasi seperti ini akan memiliki harga diri rendah dan percaya bahwa dirinya itu tidak ada nilainya sama sekali.

8. Hukuman fisik dapat memicu timbulnya perilaku suka menyakiti orang lain

Pemberian hukuman fisik dapat memberi pesan yang berbahaya dan tidak adil dalam benak anak, yaitu : Boleh saja kita menyakiti seseorang, asal tidak sesakit yang pernah kita alami”!

Anak itu akan menyimpulkan bahwa tidak apa – apa menganiaya anak yang lebih muda atau lebih lemah dari dirinya. Beranjak dewasa, boleh jadi dia hanya sedikit mempunyai belas kasih pada penderitaan orang lain, dan sebaliknya akan mengembangkan rasa takut berlebihan pada orang yang dianggapnya lebih kuat dari dirinya.

Semuanya akan menghambat terjadinya pembentukan relasi yang bermakna antar sesama, yang justru esensinya sangat penting untuk kehidupan emosional yang kuat.

9. Setelah dewasa, cenderung akan menafikan (discourages) pada adanya model disiplin lain, selain hukuman fisik.

Karena anak – anak belajar melalui contoh dari orang tua, maka pemberian hukuman fisik boleh jadi akan memberi pesan bahwa : Memukul atau memberi hukuman fisik adalah cara yang paling tepat untuk mengungkapkan perasaan dan untuk memecahkan masalah.

IMG_7616

Doc.YSKK 2013

Jika sorang anak tidak menemukan sosok orang tua yang mampu memecahkan masalah dengan cara yang lebih kreatif dan manusiawi, selain dengan cara – cara agresif, maka akan sulit bagi anak untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena alasan inilah, sering kali orang tua yang kemampuan parentingnya “Payah”, cenderung menurun bakatnya ini pada generasi berikutnya.

Sumber : Andi Priyatna, “Pareting Fr Character Building”, PT Elex Media Komputindo 2011 

MENOLONG ANAK PEMALU

KBM Permata Hati, Weru Sukoharjo

Beberapa anak ada yang memang berbakat lebih pemalu dari anak – anak lain. Mereka mungkin malu untuk berbicara dengan orang lain, tampil di depan kelas, berkenalan, dan lain – lain. Orang tua harus berperan aktif untuk membantu anak keluar dari cangkangnya. Karena sejatinya setiap anak adalah istimewa. Beberapa cara/langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menolong anak yang pemalu :

Menumbuhkan Keberanian

Sebagai langkah awal kita dapat membiasakan untuk mengadakan acara”kumpul-kumpul” di rumah kita. Dalam acara ini, kita dapat mengundang keluarga, tetangga atau kawan – kawan dari anak – anak kita. Kegiatan seperti ini akan membantu anak untuk terbiasa dengan kehadiran orang – orang baru disekitarnya.

Jika ada kesempatan, kita pun dapat mendorong anak untuk bersedia menyambut tamu yang datang. Untuk pertama kalinya, tentu kita tidak perlu mengundang banyak tamu kerumah, cukup satu atau dua orang saja. Acara yang akan diadakan pun tidak perlu yang rumit – rumit, misalnya acara minum teh sore – sore pun sudah cukup.

Pastikan anak kita mau untuk turut bergabung dengan para tamu yang kita undang, tidak malah mengurung diri di kamarnya. Semakin banyak jumlah orang yang “terespos” pada anak, maka semakin mudah pula bagi anak untuk”terbuka”

Memberi Perhatian

Simak ketika anak berbicara dan beri perhatian penuh. Jika kita mengabaikan anak ketika dia coba menarik perhatian kita, dia akan dengan cepat mengetahuinya! Dan segera dia akan merasa terabaikan.

Perlahan dia akan mengurangi prevalensi curhat kepada orang tua. Pada kondisi yang sudah kronis, dapat saja anak akan kembali mengurung diri dalam tempurung. Karena memberi perhatian sangat penting bagi anak yang pemalu.

Tidak Memberi Label

Jangan pernah mengatakan didepan umum, bahkan dihadapan anak bahwa anak kita pemalu! Karena jika hal tersebut dilakukan bisa jadi sang anak akan “mematenkan” dirinya sendiri bahwa dia memang ditakdirkan untuk menjadi seorang yang pemalu, dan merasa tidak ada cara untuk bisa mengubahnya.

Melatih Berbicara di depan Umum (Public Speaking)

Secara diam – diam, kita dapat berbicara dengan guru anak kita tentang sifat pemalu dari anak kita. Kita dapat meminta kepadanya untuk lebih sering menunjuk anak kita saat mengajukkan pertanyaan di kelas, atau meminta untuk membacakan sebuah paragraf dari buku pelajaran.

Berbicara lantang didepan umum pasti akan sangat membantu. Kita pun dapat melatih kemampuan bicara di depan umum sebagai sebuah kebiasaan di rumah. Misal dengnan mengadakan acara saling bercerita, membaca puisi, dan lain – lain. Anak pun akan terbiasa saat harus berbicara di hadapan banyak orang.

Tetapi JANGAN pernah memaksanya untuk tiba – tiba tampil didepan orang asing. Pemaksaan seperti itu justru akan kembali menegaskan bahwa dia memang pemalu, sampai – sampai harus dipaksa untuk berani tampil di muka umum. Jadi lakukanlah secara bertahap

Menanamkan Arti Pentingnya Percaya Diri Kepada Anak

Anak yang percaya diri adalah aset bagi bangsa. Seorang anak yang percaya diri memiliki kekuatan pemikiran yang lebih baik. Orang yang percaya diri itu memiliki kepercayaan diri dan mempunyai kompetensi.

Dia percaya pada penilaiannya sendiri dan tidak khawatir dalam menangani situasi – situasi baru. Dia pun menyadari fakta bahwa orang lain akan turut menilai kemampuannya (meskipun dia sendiri sudah mampu menilai dirinya sendiri).

Dan pada gilirannya, rasa percaya diri akan membuat anak menjadi :

–       Lebih terbuka dan outgoing

–       Dapat dipercaya

–       Mudah bekerjasama

–       Mampu menjalankan tugas – tugas yang dibebankan kepadanya.

Pemenuhan Hak Anak, Sudahkah ?

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak ditahun 1990. Adanya berbagai Rencana Aksi seperti untuk pekerja anak, perdagangan anak dan lain sebagainya, adanya Komisi Perlindungan Anak untuk pengawasan. Namun keadaan kita sekarang ibarat berlomba dengan masalah anak dari hari ke hari. Masalah yang dahulu hanya berkisar sekitar anak cacat, yatim piatu, sekarang berkembang pada berbagai masalah lain :  masalah anak jalanan, pekerja anak, penjualan anak, kekerasan, narkoba HIV/Aids, sehingga mengancam sendi-sendi kehidupan bangsa.

Perlu kita renungkan apa sebabnya upaya kita tidak mencukupi tuntutan yang ada. Apakah karena kemiskinan yang masih melanda bangsa kita. Apakah karena etika bermasyarakat kita yang salah?. Apakah masih ada budaya pengasuhan anak yang merugikan tumbuh kembangnya? Faktor-faktor apa saja yang dapat kita temui dan kenali untuk diatasi bersama. Anak anak saat ini adalah hasil dari upaya kita membina dan mengembangkan nya dalam kurun waktu 23 tahun , sudah kah kita mempersiapkannya di era saat ini, era demokrasi, dimana anak sudah diajarkan bagaimana bisa ikut berpartisipasi aktif, di era globalisasi dimana anak sudah diajarkan bagaimana mengikuti persaingan perkembangan zaman yang begitu ketat, dan di era modern ini dimana anak dituntut untuk senantiasa memiliki jati diri yang kuat. bagaimana kita menanggapi permasalahan ini jika dikaitkan dengan pemenuhan hak – hak anak, karena ini merupakan suatu keharusan untuk mewujudkan pembangunan yang berhasil.

 Seperti yang di katakan oleh Kofi Annan

“With the childhood of so many under threat, our collective future is compromised. Only as we move closer to realizing the rights of all children will countries move closer to their goals of development and peace. (Dengan masa kanak-kanak yang terancam, masa depan kita bersama adalah tawar menawar. Hanya dengan mewujudkan hak-hak asasi semua anak, negara makin mendekati pencapaian tujuan pembangunan dan kedamaian.)” 

Pertanyaannya adalah bagaimana kita meningkatkan sinergi dalam memenuhi hak anak-anak kita? untuk bisa menjawab tantangan zaman. Kita mempunyai UU, peraturan pemerintah, peraturan daerah, dll. Dengan Melihat tantangan yang sulit diramalkan, kita harus mempersiapkan anak-anak kita untuk bisa menghadapi permasalahan dunia di masa depan yang saat ini belum kita ketahui. Apakah perlu kita mengupayakan terobosan-terobosan baru? Kalau kita simak visi Pembangunan Jangka Panjang Nasional (PJPN) 25 tahun jelas bahwa pengembangan sumber daya manusia adalah untuk mendukung Indonesia yang mandiri, adil, dan makmur. Dengan kata lain, kita harus mampu bersaing dalam segala hal termasuk dalam kita berbangsa dan bernegara. Dan dalam mewujudkan visi tersebut adalah dengan menciptakan dan membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Jika kita kembali melihat di Konvensi Hak Anak Dunia, disana jelas tercantum bagaimana sebagai orang dewasa yang bernegara kita harus bisa memenuhi dan mematuhi kesemua Hak anak tersebut.

Ada hal-hal yang harus segera kita sempurnakan pelaksanaannya agar hak-haknya terpenuhi untuk optimalisasi pencapaiannya. Karena tanggung jawab pemenuhan Hak Anak adalah Tanggung Jawab bersama, dari unsur terkecil di masyarakat yaitu Keluarga hingga Pemerintah. Dan jika hal tersebut bersama sama kita sadari akan pentingnya, maka kedepan untuk pembangunan Manusia Indonesia yang berkualitas tidak lagi menjadi kekhawatiran… Selamat Hari Anak.