Archives

Sertifikasi Produk

Sertifikasi merupakan suatu proses pengakuan oleh pihak lain (Pihak ketiga) terhadap produk dalam memenuhi dan menerapkan standar mutu. Kewenangan sertifikasi produk olahan :

  • Sertifikat P-IRT Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
  • Sertifikat HACCP BPOM
  • Sertifikat Halal LPPOM MUI
  • Sertifikat MD (Merek Dalam) BPOM

Manfaat Sertifikasi :

  1. Bagi pemerintah, dapat membantu mengendalikan peredaran barang – barang yang telah diregulasi, yang dipersyaratkan untuk memenuhi standar tertentu.
  2. Bagi produsen, dapat menjadi alat pemasaran yang ampuh untuk membedakan keunggulan produknya di pasar serta menghindarkannya dari persaingan dengan produsen – produsen yang memproduksi produk jenis tertentu yang tak bermutu.
  3. Bagi konsumen dapat menjadi petunjuk yang jelas untuk memilih produk – produk handal

A. Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT)

  • Jaminan tertulis yang diberikan oleh bupati/walikota terhadap pengan produksi IRTP di wilayah kerjanya yang telah memenuhi persyaratan pemberian SPP -PIRT dalam rangka peredaran pangan produksi IRTP
  • Nomor P-IRT adalah nomor pangan IRT yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari SPP-IRT dan wajib dicantumkan pada label pangan IRT yang telah memenuhi persyaratan pemberian SPP-IRT.

Cara Memperoleh SPP – PIRT

  • Pemilik industri rumah tangga pangan (IRTP) mengajukan permohonan kepada pihak berwenang.
  • Pemiliki IRTP mengikuti penyuluhan keamanan pangan (PKP)
  • Pemeriksaan sarana produksi oleh petugas dinas kesehatan kabupaten
  • Penerbitan SPP-IRT oleh pihak berwenang yang ditunjuk

PIRT tidak berlaku untuk produk :

  • Susu dan hasil olahannya
  • Daging, ikan, unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses dan atau penyimpanan beku
  • Pangan Kaleng (PH>4,5)
  • Minuman beralkohol
  • Air Minum dalam kemasan (AMDK)
  • Pangan lain yang wajib memenuhi persyaratan SNI

Jenis pangan ini harus menggunakan ijin BPOM Provinsi atau BPOM Pusat

Persyaratan SPP – IRT :

  • Fotocopy KTP pemohon
  • Fotocopy izin mendirikan bangunan (IMB) *Modal diatas 200 juta atau usaha dibawah 5 juta yang mempunyai limbah berbahaya
  • Fotocopy izin gangguan
  • Fotocopy tanda daftar industri/izin usaha industri
  • Daftar sarana dan Prasarana
  • Denah lokasi dan bangunan
  • Surat pernyataan tunduk pada peraturan yang berlaku
  • Foto ukuran 4×6 sebanyak 2 (dua) lembar
  • Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten
  • Fotocopy sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP)
  • Fotocopy akta pendirian perusahaan bagi yang berbadan hukum.

Pengajuan perpanjangan dan perubahan pemilik/penanggungjawab SPP-IRT :

  1. Pengajuan perpanjangan SPP-IRT dapat dilakukan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum masa berlaku SPP-IRT berakhir
  2. Perubahan pemilik/penanggungjawab IRTP harus dilaporkan pada pihak yang mengeluarkan SPP-IRT

Pencabutan SPP-IRT :

  1. Pemilik atau penanggungjawab perusahaan melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku
  2. Pangan terbukti sebagai penyebab kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan
  3. Pangan mengandung bahan berbahaya
  4. Sarana terbukti tidak sesuai dengan kriteria IRTP.

B. HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points)

Sertifikan penerapan HACCP merupakan salah satu persyaratan mutlak dan wajib harus dimiliki oleh unit pengolahan ikan (UPI), bila akan melakukan ekspor hasil produksi perikanannya. Kementrian kelautan dan perikanan melalui PER.19/MEN/2010 menunjuk Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan sebagai otoritas kompeten untuk melakukan pengendalian sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan dengan salah satu tugasnya adalah menerbitkan sertifikan penerapan HACCP.

Bagi unit pengolahan ikan yang berkeinginan mendapatkan dan memiliki sertifikat penerapan HACCP harus mengacu kepada tata cara penerbitan HACCP sesuai peraturan Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan No.Per.03/BKIPM/2011

Alur Proses Sertifikasi HACCP :

  1. UPI mengajukan permohonan sertifikasi kepada BKIPM
  2. BKIPM menugaskan Inspektur Mutu untuk melakukan inspeksi ke UPI
  3. UPI membuat laporan tindakan perbaikan hasil temuan ke inspektur mutu untuk di verifikasi
  4. Laporan hasil verifikasi disampaikan ke BKIPM
  5. BKIPM melakukan proses sertifikasi penerapan HACCP hingga terbit, dan menyampaikan sertifikat tersebut secara langsung kepada pihak UP.

Syarat untuk memperoleh sertifikat penerapan HACCP :

  1. Memiliki surat ijin usaha perdagangan (SIUP) dan akta notaris pendirian perusahaan di bidang pengolahan hasil perikanan, ijin usaha perikanan (IUP), dan atau tanda daftar usaha perikanan
  2. Mendapat SKP hasil pembinaan dari Ditjen P2HP, bagi UPI yang pertama kali mengajukan permohonan sertifikat penerapan HACCP
  3. Memiliki dan menerapkan sistem HACCP secara konsisten sesuai dengan keputusan menteri kelautan dan perikanan nomor KEP.01/MEN/.2007 tentang persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan pada proses produksi, pengolahan dan distribusi.
  4. Melakukan proses produksi secara aktif.

C. Sertifikasi Halal

Sertifikat halal produk pangan, obat – obat, kosmetik dan produk lainnya :

  1. Suatu fatwa tertulis dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syariat islam.
  2. Bertujuan untuk memberikan kepastian status kehalalan suatu produk, sehingga dapat menentramkan batin konsumen muslim.
  3. Syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman LABEL HALAL pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang.
  4. Masa berlaku sertifikat halal adalah 2 tahun.
  5. Untuk daging yang diekspor Surat Keterangan Halal diberikan untuk setiap pengapalan.
  6. Tiga bulan sebelum habis harus memperbaharui.
  7. Tidak memperpanjang, harus menghilangkan tulisan halal.

Produsen Harus mempunyai :

  1. Sistem jaminan halal
  2. TIM Internal Auditor HALAL.

 

Advertisements

Standarisasi Produk

Standarisasi produk barang dan jasa sangat penting dalam perdagangan global. Kebijakan untuk memperketat standar perlu dilakukan karena banyak ditemukan produk – produk dengan tingkat keamanan yang rendah, misalnya pada produk makanan, minuman, obat – obatan, kosmetik ataupun produk barang yang lain dan juga jasa. Standarisasi dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja dan masyarakat lainnya baik untuk keselamatan, keamanan, kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup, serta untuk membantu kelancaran perdagangan dan mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.

Setiap pelaku usaha atau produsen harus memahami terlebih dahulu tentang pengertian standart/ukuran sebagaimana diatur di dalam pasal 1 angka 1 PP Standart Nasional, yakni spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat – syarat keselamatan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar – besarnya.

Menurut PP No. 102 Tahun 2000, standarisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar yang dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pihak. Standar pangan diperlukan untuk menjamin : (1) Tidak ada penyebaran penyakit melalui pangan, (2) Membatasi pemasaran produk yang tidak layak jual, (3) Mempermudah pemasaran dan (4) Memberikan Kepastian pelayanan pada konsumen. Perlunya standarisasi Pangan Dan Mutu diantaranya :

  1. Kepastian mutu spesifik artinya standarisasi mutu yang jelas harus mempunyai spesifikasi tertentu sebagai tolok ukur kesesuaian.
  2. Kepuasan Pelanggan
  3. Meningkatkan daya saing pasar
  4. Membentuk budaya mutu. Dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam produksi.
  5. Meningkatkan SDM.
  6. Efisiensi dalam proses.
  7. Melindungi Konsumen. Barang yang tidak memenuhi syarat mutu dapat menimbulkan kerugian pada konsumen, terlebih bila produk tersebut berupa makanan atau minuman akan dapat membahayakan kesehatan pada konsumen.

Standar Kualitas Pangan umumnya mencakup :

  1. Kandungan komponen utama
  2. Rasa, Aroma, Tekstur
  3. Kondisi Bebas Cacat atau Kapang
  4. Daya tahan simpan
  5. Sumber bahan baku yaitu alami atau sintetis
  6. Cara Pengolahan mekanis atau kimiawi
  7. Ukuran

Disarikan dari berbagai sumber

Strategi Pemasaran

Pemasaran adalah segala sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait siapa pelanggan yang akan dituju, apa yang pelanggan butuhkan dan inginkan (ILO :2008)

Penjualan : Sebuah Langkah kongkrit memindahkan barang atau jasa yang anda hasilkan kepada konsumen yang anda tuju. sesuatu yang dapat dikatakan penjualan biasanya ditandai dengan hasil sejumlah nominal uang yang dihasilkan dari aktivitas tersebut.

Prinsip Pemasaran adalah 4P (Produk, Price, Place dan Promotion)

  1. Product atau produk : Jenis produk apa yang akan dijual ke pelanggan termasuk bagaimana mengemas produk tersebut.
  2. Price atau harga : harga yang akan dikenakan terhadap produk tersebut.
  3. Place atau tempat : Bagaimana dan dimana tempat produk anda berada
  4. Promotion atau promosi : Bagaimana cara memberitahukan pelanggan tentang produk yang akan dijual.

Perkembangan zaman tentunya membuat perubahan yang signifikan dalam orang melakukan pemasaran. Mengingat setiap tahun jumlah produsen dan orang berbisnis semakin meningkat. Variasi jenis produk juga semakin banyak, maka dengan produk yang sama perlu dilakukan strategi pemasaran agar produk yang kita miliki layak untuk dipasarkan. Beberapa strategi pemasaran yang bisa dilakukan diantaranya :

  1. Mengenal Pasar atau Pelanggan Anda. Mengenal Pasar adalah hal terpenting yang harus anda lakukan pertama kali. Mengapa demikian? Sebab pasarlah yang menggunakan produk anda. Anda ada karena pasar membutuhkan. Jika anda tidak bisa mengenali pasar yang akan anda kuasai, maka bisa dikatakan anda telah gagal sejak awal. Bagaimana cara yang bisa anda lakukan untuk mengenal pasar anda? Hal yang mudah, yaitu teliti lah terlebih dahulu siapa atau kalangan mana yang kemungkinan besar akan menggunakan produk anda. Atau bisa dilakukan survey pasar terhadap produk – produk sejenis dengan yang akan anda jual. Survey pasar dapat dilakukan terhadap calon pembeli ataupun pesaing produk anda.
  2. Optimalikan Promosi. Setelah anda melakukan strategi mengenali pasar, hal yang dilakukan selanjutnya adalah optimalkan promosi atau pemasaran produk anda.  Untuk melakukan promosi, anda harus bisa membuat sekreatif dan seinovatif mungkin untuk memikat daya tarik konsumen anda. Lakukan juga dengan konsisten dan secara terus-menerus agar pasar dapat mengingat produk anda. Anda juga bisa melakukan promosi dengan cara membagikan brosur kepada orang-orang di sekitar anda. Atau menyebarkan produk anda di akun media sosial anda untuk menarik konsumen. Promosi yang gencar dilakukan di media sosial juga akan sangat membantu
  3. Memilih Tempat Usaha Yang Strategis. Yang pertama kali terlintas dalam benak kita saat akan melakukan promosi produk adalah  “dimana kita akan memasarkan produk ini?”. Strategi sebelumnya menjadi penentu untuk menentukan dimana Anda akan menjual produk. Meskipun untuk saat ini tempat strategis belum bisa menjamin bahwa produk kita akan dikenal dan diminati banyak orang.
  4. Tingkatkan Kualitas Produk.Membuat produk berkualitas dan sesuai dengan target market yang akan dibidik adalah sebuah awal yang baik untuk memulai bisnis, apapun jenis bisnis Anda. Kualitas yang dimaksud di sini mulai dari bahan baku, proses pembuatan, hingga tercipta sebuah produk. Dengan membuat produk yang berkualitas, maka dengan sendirinya Anda telah membantu proses pemasaran itu sendiri. Alasannya, karena semua orang lebih memilih produk yang berkualitas ketimbang produk yang abal-abal.Proses pembuatan produk berkualitas ini sendiri tidak bisa terjadi begitu saja. Tentunya butuh waktu untuk mereview produk yang sudah dihasilkan hingga akhirnya benar-benar sesuai dengan yang diharapkan
  5. Membuat Kemasan yang menarik untuk produk.Ada pepatah yang mengatakan “Jangan menilai sesuatu dari kulitnya”. Namun, dalam strategi pemasaran produk baru yang baik, kita harus memperhatikan segala aspek. Termasuk kemasan produk yang dijual.Kemasan produk yang menarik tidak sekedar tampilan saja. Namun, harus ada sesuatu yang dapat membuat produk yang dijual berkesan dan diingat oleh konsumen. Ada banyak konsumen yang lebih mudah mengingat sebuah produk karena kemasan produk tersebut sangat berkesan.
  6. Manfaatkan Media Online.Jangan menyia-nyiakan teknologi yang sudah canggih yang telah ada sekarang ini. Anda harus memaksimalkan dalam memanfaatkan teknologi agar bisa mengefisiensikan perusahaan anda agar menjadi lebih baik. Selain itu anda juga bisa mengusahakan agar perusahaan anda mengeluarkan biaya seminim mungkin.Anda bisa menggunakan Search Engine Optimization atau Social Media Optimizationsebagai online marketing. Kedua model ini sangatlah bagus namun anda harus menyesuaikan dengan produk yang anda pasarkan terlebih dahulu. Jika produk yang anda pasarkan adalah produk yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari, maka gunakanlah Social Media Optimization (SMO). Sedangkan jika produk yang anda pasarkan adalah produk yang banyak dicari, anda bisa menggunakan Search Engine Optimization (SEO).Anda dapat meminimalisirkan pengeluaran anda sehingga tidak perlu mencetak brosur, baliho atau spanduk dalam hal pemasaran produk anda. Sebab itu semua sudah digantikan dengan adanya pemasaran produk di internet atau online.
  7. Manfaatkan Pelanggan. Jaga hubungan baik anda dengan pelanggan. Ini sangat penting sebab dapat menarik pelanggan anda untuk dapat bertransaksi kembali. Tanggapi feedback-feedback yang mereka berikan dan dengar masukan-masukannya. Anda bisa meminta testimoni-tesmino tentang produk anda kepada mereka dan memberikan semacam reward diskon belanja kepada mereka. Dengan melakukan hal-hal tersebut, pelanggan akan merasa dihargai oleh perusahaan anda. Ini akan menjadikan perusahaan anda sangat baik di mata mereka dan tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan melakukan pemasaran produk anda kepada kerabat-kerabat mereka.
  8. Adakan Promosi Produk. Di jaman yang serba mahal ini sudah pasti banyak orang yang menyukai adanya promo produk atau sale. Anda bisa menambahkan tawaran promo produk pada iklan yang Anda pasang.Misalnya, karena produk Anda adalah produk yang baru maka Anda akan memberikan promo “Buy One Get One Free”. Promo ini terbilang ampuh karena akan menarik perhatian calon pembeli yang awalnya hanya ingin coba-coba justru bisa menjadi pelanggan  tetap karena kualitas produk yang Anda tawarkan.Promo seperti ini tentu harus didasari perhitungan untung rugi. Jangan sampai karena adanya over promo justru membuat Anda bangkrut. Solusinya bisa membatasi promo misalnya hanya berlaku untuk 2 atau 3 hari saja.
  9. Kerjasama dengan Pelanggan. Satu lagi cara promosi yang paling jitu adalah dengan memanfaatkan tenaga pelanggan. Anda bisa menawarkan sistem bagi hasil bagi pelanggan yang mau menawarkan produk Anda ke konsumen lain.Atau kalau yakin, Anda bisa membuat skema bisnis MLM atau menawarkan komisi saat pelanggan Anda berhasil memasarkan produk. Namun perlu diingat, cara ini harus hati-hati. Jangan membuat skema sembarangan karena bila merugikan pelanggan, Anda bisa dipidanakan.
  10. Evaluasi Produk. Evaluasilah apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan akan produk yang anda produksi. Kembangkan kelebihan yang anda lalu kurangi kelemahan yang ada. Pelajari hal-hal yang dapat meningkatkan produk anda sehingga pelanggan akan semakin terpuaskan.

 

Disarikan dari berbagai sumber

Continue reading

Wirausaha Perempuan

Pilihan bekerja menjadi seorang wiraushan semakin hari semakin meningkat, apalagi dikalangan perempuan. bekerja sebagai seorang wirausaha sesuai dengan kultur perempuan dan mampu dilakukan dengan berbagai keterbatasan dan beban yang ditanggungnya. Wirausaha adalah sebuah pilihan, namun demikian bagi perempuan seringkali itulah jalan untuk meningkatkan kesejahteraannya, mencukupi kebutuhan keluarganya atau bahkan mengurangi ketergantungan pada pihak lain. Dengan wirausaha perempuan bukan saja akan memperoleh pendapatan saja, namun juga mendapatkan kesempatan meningkatkan ketrampilan, pengetahuan serta jaringannya. Lewat wirausaha, perempuan yang sering diidentikkan dengan lemah, tidak mampu, bisa berubah menjadi perempuan yang cerdas, mampu menganalisa dan membuat keputusan serta mampu berpartisipasi dalam urusan publik. Perempuan juga bisa membuat perubahan di keluarganya, kelompoknya maupun lingkup desanya.

Pada hakekatnya semua orang adalah wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri dalam menjalankan usaha dan pekerjaannya guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya. dengan memiliki sebuah usaha atau bergabung dalam sebuah jaringan usaha, perempuan akan memiliki banyak keuntungan antara lain pendapatan secara ekonomi, memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas komunikasi, negosiasi, kesempatan belajar himgga memiliki posisi yang lebih baik di mata keluarga dan masyarakat. banyak perempuan sering lebih dipercaya atau didengarkan suaranya karena memiliki usaha. selain itu mereka juga lebih pandai membuat keputusan.

Untuk menjadi wirausaha perempuan yang sukses, diperlukan sebuah perencanaan untuk bisa memulai sebuah usaha. Dengan melakukan perencanaan usaha maka akan mudah menetapkan tahapan menjalankan usaha serta dapat mengukur kelayakan sebuah usaha. Kata Kewirausahaan berasal dari kata dasar Wirausaha. Kata “Wira” berarti pahlawan, berani, jantan atau mulia, sedangkan kata “usaha” berarti kegiatan bisnis komersiil atau non komersiil. usaha juga berarti kegiatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Usaha juga berarti pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhitiar, daya upaya) untuk mencapai sesuatu.

Kewirausahaan Perempuan adalah sebuah usaha yang dijalankan oleh perempuan baik sendiri atau bersama kelompoknya baik dalam menghasilkan sebuah produk barang atau jasa (termasuk memasarkannya). Wirausaha juga diartikan sebagai orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai peluang bisnis, mengumpulkan sumber – sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dan tindakan yang tepat guna memastikan sukses.

Setiap perempuan memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk menjadi seorang wirausaha. walaupun selama ini, pelaku usaha lebih banyak identik dengan laki – laki. Namun demikian sesungguhnya banyak perempuan juga memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam menjalankan sebuah usaha, bukan hanya sebagai karyawan atau buruh saja, namun juga pemimpin usaha. Perempuan yang memiliki beban domestik mempunyai peluang menggunakan pengalamannya mengurus rumah tangganya menjadi modal usaha. Ketrampilan memasak, mencuci, mengurus anak dll bisa menjadi modal usaha membuka warung makan, usaha loundry, membuka usaha penitipan anak, dst. Untuk menjadi wirausaha, perempuan memerlukan kemampuan melihat peluang dan berani membuat keputusan serta menanggung resiko. Di samping itu perempuan juga mempunyai kemampuan kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan sumberdaya dan peluang untuk mengembangkan usaha yang bertujuan meningkatkan penghasilan dan taraf hidupnya. Kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan dan menyediakan produk merupakan modal utama dalam meraih peluang, disamping kemampuan dalam manajemen usaha.

Sumber : Modul 1, Kewirausahaan & Rencana Usaha ACCESS

 

 

 

 

Usaha Produktif Perempuan

Perempuan produktif merupakan istilah yang diberikan pada perempuan yang sudah mampu memberikan kontribusi secara ekonomi baik pada dirinya sendiri, keluarga maupun lingkungannya. Kesadaran perempuan untuk maju dan berkembang dalam usaha ekonomi banyak mendukung tumbuhnya jiwa kewirausahaan dalam rangka menciptakan kemandirian ekonomi. Kemandirian meningkatkan harkat martabat juga posisi tawar perempuan dalam berbagai hal.  Di era modern perempuan dituntut bisa membangun kemandirian ekonominya dengan pengelolaan dan pengembangan usaha (bisnis). Sebagian besar usaha perempuan banyak berkaitan dengan wilayah “domestik” dekat dengan lingkungan rumah tangganya, seperti pada sektor jasa, industri rumah tangga, serta sektor informal lainnya. Perempuan dengan kemampuannya bisa menyisihkan waktu luangnya mengurus rumah tangga dan membuka usaha produktif seperti industri rumahan berupa kerajinan tangan, tenun, menjahit pakaian, membuat makanan olahan, warung sembako, warung makan dan lain – lain.

Dalam bermasyarakat antar perempuan juga membangun kelompok usaha bersama dengan pengelolaan usaha simpan pinjam untuk permodalan usaha. Peran perempuan sebagai pengelola usaha telah berkembang tidak hanya diwilayah perkotaan tetapi juga kewilayah pedesaan. Perempuan di pedesaan banyak menjalankan kegiatan usaha di pertanian, peternakan, perikanan, industri kecil dan perdagangan. Pengembangan usaha rumah tangga yang ditangani perempuan banyak memanfaatkan potensi lokal dan tenaga kerja keluarga. Secara tradisional usaha dikelola turun temurun tanpa ada perencanaan dan pembukuan usaha. Meskipun demikian para pengusaha sudah bisa menikmati keuntungan meskipun belum ada perhitungan pasti. Maka penting kiranya adanya pengetahuan yang mendasar bagi perempuan di dalam mengembangkan usaha produktifnya. Selama ini usaha produktif perempuan yang berjalan, hanya dimaknai ”yang penting berjalan, tidak rugi, dan mampu menambah pendapatan rumah tangga” belum berfikir bagaimana usaha tersebut kemudian dapat maju, berkembang dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Usaha produktif perempuan yang dikelola dengan baik, memiliki managemen yang baik akan banyak mendapatkan banyak manfaat diantaranya  :

  • Usaha produktif tersebut sebagai Tempat belajar atau forum bersama bagi perempuan tentang bagaimana mengelola usaha, menentukan jenis usaha, menjalankan usaha, administrasi usaha, dll
  • Usaha produktif mampu untuk Menambah penghasilan keluarga.
  • Dengan adanya usaha produktif perempuan, maka mampu meningkatkan kemampuan dan martabat perempuan baik di ranah domestik maupun ranah publik.
  • Usaha Produktif yang terlembagakan dengan baik, biasanya akan memiliki forum belajar bersama. dimana forum belajar bersama usaha produktif tersebut sebagai Tempat/wadah untuk mengeluarkan pendapat, ide dan belajar menjadi pemimpin bagi perempuan.
  • Usaha Produktif mampu menumbuhkan dan mengembangkan pribadi yang tangguh dan mandiri.
  • Berkembangnya usaha produktif mampu mempercepat pembangunan daerah, menciptakan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pengemtasan kemiskinan.

Di wilayah pedesaan, usaha produktif perempuan sebenarnya sudah banyak dilakukan hanya saja seringkali belum terorganisir dengan baik. Usaha produktif yang dilakukan baru sebatas yang penting jalan, belum dikelola dengan baik, Sehingga terkesan ”yang penting jalan” . Padahal jika usaha – usaha produktif perempuan tersebut dikumpulkan, kemudian diajak belajar bersama terkait dengan peluang usaha saat ini, pemasaran offline dan online, serta bagaimana membangun jaringan tentunya usaha produktif perempuan tersebut tidak hanya sekedar berjalan. Karena keberadaan usaha produktif perempuan setiap tahunnya jumlah nya terus bertambah, dari perempuan usia muda hingga yang sudah berkeluarga banyak yang sudah menjalankan usaha produktif. Namun banyaknya usaha produktif perempuan tersebut (khususnya di Desa) belum mampu meningkatkan kesejahteraan perempuan (khususnya) secara signifikan. Maka perlu adanya treatment khusus bagi usaha produktif perempuan agar mampu berkembang dengan baik.

 

 

 

Hak Ekonomi Perempuan

Sebagai manusia, perempuan memiliki hak yang sama dengan laki – laki. Hak – hak perempuan tanpa diskriminasi tersebut berlaku secara universal berdasarkan Hak Asasi Manusia. Hal ini juga telah dinyatakan dalam regulasi internasional dan nasional. Peran perempuan dalam perekonomian nasional telah tertuang, baik di dalam UUD 1945, maupun beberapa regulasi lainnya (UU, PP, Peraturan Menteri, dll). Secara Internasional Hak Ekonomi Perempuan diakui dalam konvensi konvensi anti diskriminasi, penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW) dan ILO. Indonesia telah meratifikasinya pada tahun 1984 dan dijabarkan di dalam regulasi dan pembangunan perekonomian nasional. Perekonomian Nasional diselenggrakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutam, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Pemenuhan hak ekonomi perempuan saat ini semakin dirasakan sebagai salah satu kebutuhan prioritas untuk mengantarkan kaum perempuan pada tataran perjuangan mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender khususnya untuk meningkatkan taraf kesejahteraannya. dengan difungsikannya hak ekonomi perempuan diharapkan semakin banyak keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dan sosial keluarganya.

Konfensi PBB Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, Berikut pasal – pasal yang berkaitan dengan diskriminasi hak – hak ekonomi :

Pasal 11. Penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dalam hal :

  1. Pekerjaan, guna menjamin hak yang sama atas dasar persamaan antara laki – laki dan perempuan: Hak untuk bekerja, hak atas kesempatan kerja termasuk penerapan kriteria seleksi yang sama dalam penerimaan pegawai, hak memilih profesi dan pekerjaan secara bebas, upah yang sama, jaminan sosial, pengangguran, sakit, cacat, perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja.
  2. Diskriminasi atas dasar perkawinan/kehamilan , a) Melarang sanksi/pemecatan karena kehamilan atau cuti hamil/status perkawinan, b) Peraturan tentang cuti hamil dengan bayaran, c) Perlindungan ketika hamil.

Pasal 13. Menghapus diskriminasi terhadap perempuan di Bidang Ekonomi dan Sosial atas dasar persamaan antara perempuan dan laki – laki, a) Hak tunjungan keluarga, b) Hak atas pinjaman bakn, hipotik, dll dalam bentuk kredit permodalan.

Pasal 14. Perlunya perhatian terhadap masalah yang dihadapi perempuan pedesaan dan peranan yang dimainkan dalam kelangsungan hidup keluarga dibidang ekonomi, termasuk pekerjaan mereka pada sektor ekonomi bukan penghasil uang. Memberikan hak untuk dapat memperoleh kredit dan pinjaman pertanian, fasilitas pedesaan teknologi tepat guna serta perlakuan sama pada land reform dan urusan – urusan pertanahan termasuk pengaturan – pengaturan tanah pemukiman

Pasal 15. Dengan memberikan kecakapan hukum kepada perempuan dapat dibangun persamaan di bidang hukum termasuk memberikan kepada perempuan hak – hak yang sama untuk menandatangani kontrak – kontrak dan untuk mengurus harta benda serta wajib memberikan perlakuan yang sama pada semua tingkatan prosedur di muka hakim dan pengadilan.

Pasal 16. Menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam semua urusan yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan kekeluargaan. Hak sama bagi suami istri bertalian dengan pemilikan, pengelolaan, administrasi, penikmatan, pemidahtanganan harta benda baik secara cuma – cuma maupun penggantian uang.

Konvensi ILO No.100

Pasal 62

  1. Memberikan jaminan bahwa perempuan mempunyai akses terhadap pemilikan tanah dan faktor produksi lainnya. Sebagai aspek persamaan perempuan yang telah kawin harus terjamin haknya untuk memiliki, mengelola, menjual miliknya secara otonom.
  2. Perempuan harus memperoleh hak untuk menguasai serta menikmati hasil – hasil usahanya dan penghasilannya dan hasil pertanian. Memperoleh manfaat dari hasil penelitian, memiliki akses terhadap kredit serta fasilitas – fasilitas infrastruktur lainnya.

Pasal 67

  1. Memberikan pengaturan di bidang pekerjaa, termasuk pemberian jaminan sosial, syarat keamanan, hak – hak berorganisasi dan akses pada berbagai kesempatan.
  2. Perlunya cabang – cabang pelayanan sosial yang meringankan pelaksanaan kewajiban rumah tangga bagi perempuan dan laki – laki

Pasal 73

Memberikan penilaian yang sama terhadap peran suami dan istri sehingga nilai pekrjaan rumah tangga dinilai sama dengan sumbangan keluarga.

Undang – undang Perkawinan 1974

  1. Memberikan jaminan terhadap hak perempuan untuk memiliki harta yang diperolehnya sebelum dan sesudah perkawinan berlangsung.
  2. Dalam berbagai hal posisi perempuan tidak sama dengan laki – laki , a) anak lahir di luar nikah hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibu, b) Suami lebih mudah menceraikan istri, c) Mengenai huku waris belum ada hukum tertulis yang berlaku secara unifikasi. Masyarakat tunduk pada hukum agama yang memuat ketentuan yang membedakan bagian anak perempuan dan anak laki – laki.

Peraturan Tebaga Kerja

UU No. 12 Tahun 1948

  1. Pekerja perempuan tidak diharuskan kerja pada hari pertama dan kedua menstruasi dengan tetap mendapatkan upah.
  2. Pekerja perempuan berhak memperoleh cuti, 1,5 bulan sebelum dan sesudah melahirkan.
  3. Pekerja perempuan diberi kesempatan untuk menyusui anak di tempat kerja.

UU No.1 Tahun 1951

Bahwa ja, kerja seminggu tidak boleh melebihi 40 jam. Lembur dibatasi hanya 14 jam seminggu

UU No.12 Tahun 1964 Pasal 3 dan 4

Mengatur bahwa pekerja yang telah dipekerjakan tiga bulan atau lebih dianggap telah memenuhi masa percobaannya dan tidak dapat diberhentikan tanpa seijin P4D. Peraturan ini diperkuat dengan peraturan No.6 Tahun 1985 pasal 4 yang menyatakan bahwa buruh harian lepas yang telah dipekerjakan selama tiga bulan berturut – turut mempunyai hak yang sama dengan pekerja tetap.

UU No.14 Tahun 1969

Pemberian perlindungan bagi kesehatan dan keselamatan kerja

UU No.16 Tahun 1969

Tenaga kerja yaitu setiap orang yang mampu melaksanakan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja dengan tujuan memproduksi barang atau jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Meskipun pengertian ini cakupannya cukup luas, akan tetapi mencakup pengertian pekerja rumah tangga, pekerja rumahan dan mereka yang bekerja di sektor informal.

 

 

 

Koperasi dan Persoalannya

Menurut Undang-undang Nomor 25 tahun 1992 koperasi ialah bidang usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Tujuan berdirinya suatu koperasi yaitu mensejahterakan para anggotanya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju.

Didalam perkembangannya koperasi saat ini banyak mengalami hambatan yang membuat perkembangan koperasi menjadi sangat lambat. Hambatan muncul baik dari internal koperasi maupun eksternal. Hambatan internal seperti : 1) Minimnya sikap profesionalitas para pengelola koperasi,  hal ini terjadi bisa karena tingkat pendidikan pengelola serta keahlian yang dimiliki pengelola koperasi yang terbatas, 2) Kurang bekerjanya fungsi pengawas koperasi, 3) Minimnya inovasi – inovasi yang dilakukan koperasi dalam menarik minat masyarakat untuk tergabung menjadi anggota. Sedangkan hambatan eksternal yang biasa dialami koperasi antara lain : 1) Tingkat pengembalian pinjaman yang kurang lancar sehingga mengurangi pendapatan dari Koperasi, 2) Partisipasi anggota yang rendah dalam kegiatan – kegiatan koperasi seperti RAT, 3) Lebih banyak anggota yang tidak memiliki usaha sehingga ketika meminjam di Koperasi hanya digunakan sebagai kebutuhan konsumsi, 4) Kurangnya pemahaman bagi masyarakat tentang keuntungan bergabung dengan koperasi, 5) Hambatan yang cukup besar pula dirasa saat ini adalah dimana koperasi harus mampu bertahan ditengah kompetisi perbankan.

Hambatan internal dan ekternal tersebut yang setiap tahunnya masih sering muncul di Koperasi. Sebenarnya persoalan – persoalan tersebut bisa diselesaikan asalkan semua komponen yang ada di koperasi mampu saling berkerjasama dan berkoordinasi dengan baik. Komponen – komponen tersebut seperti pengelola koperasi, pengawas koperasi, anggota koperasi, pemerintah daerah dan pihak eksternal lain seperti LSM. Beberapa solusi yang bisa dilakukan dalam upaya meminimalisir hambatan – hambatan koperasi antara lain :

  1. Mengaktifkan kegiatan pendidikan perkoperasian, pendidikan perkoperasian bisa diperuntukkan bagi pengelola, pengawas maupun anggota tergantung dengan tema yang dipilih. Pendidikan perkoperasian bagi pengelola tema yang diangkat bisa terkait dengan bagaimana menyusun laporan keuangan yang tepat waktu, atau bagaimana peran dan fungsi pengelola koperasi sesuai dengan posisi yang diamanahkan. Sedangkan pendidikan perkoperasian bagi anggota dapat mengambil tema tentang management ekonomi rumah tangga, kiat berwirausaha, dll. Pendidikan perkoperasian sebenarnya merupakan inovasi yang bisa dilakukan oleh koperasi dalam menarik minat masyarakat dan kepedulian anggota kepada koperasi.
  2. Perlu dilakukan regenerasi kepengurusan/ pengelola koperasi. Kurang profesionalnya pengelola dalam mengelola koperasi salah satu nya dikarenakan adanya rangkap jabatan dalam struktur kepengurusan dan juga regenerasi yang kurang berjalan dengan baik, seperti kebanyakan pengelola koperasi adalah generasi tua dan sangat minim generasi muda yang terlibat di dalam pengelolaannya. Maka perlu kemudian dilakukan regenerasi kepengurusan atau tahapan pengkaderan bagi pengelola koperasi.
  3. Untuk meminimalisir adanya pinjaman bermasalah, hendaknya koperasi memiliki quality control terkait proses peminjaman seperti adanya survey kelayakan calon peminjaman, memastikan jaminan yang diberikan adalah senilai dengan jumlah pinjaman. Selain itu dapat juga diberlakukan rasio besarnya pinjaman terhadap tabungan anggota. Semakin besar tabungan/ simpanan yang dimiliki anggota di koperasi maka semakin besar pula jumlah pinjaman yang bisa diberikan oleh koperasi.
  4. Jika pinjaman bermasalah sudah terlalu tinggi/ kredit macet tinggi hal yang bisa dilakukan antara lain ; melakukan pendataan ulang para peminjam koperasi dan dibagi berdasarkan kategori tertentu seperti pinjaman lancar, pinjaman kurang lancar, pinjaman tidak lancar dan pinjaman macet. Kategori ini bisa disesuaikan dengan kebijaksanaan koperasi misalkan pinjaman kurang lancar adalah peminjam yang angsuran setiap bulannya tidak melebihi 2 bulan jatuh tempo. Dari hasil pemilahan para peminjam ini maka akan diketahui jumlah peminjam paling banyak berada pada posisi/kategori mana yang kemudian dapat dilakukan tindakan selanjutnya seperti penagihan, penyitaan jaminan, dll.
  5. Untuk menarik minat masyarakat untuk bergabung di Koperasi, koperasi bisa memberikan program program yang menarik seperti adanya reward/ hadiah bagi anggota yang jumlah tabungannya besar atau anggota yang rutin membayarkan angsuran tepat waktu. Bisa juga diadakan kegiatan sosial seperti pemberian beasiswa bagi anggota yang memiliki anak berprestasi, dll
  6. Dalam rangka membangun jaringan dengan pemerintah daerah dalam hal ini dinas koperasi kabupaten/ kota, hendaknya koperasi rutin memberikan laporan (data & informasi) perkembangan koperasi setiap bulannya ke dinas koperasi, selain itu koperasi juga bisa melibatkan dinas terkait dalam aktivitas aktivitas yang diselenggarakan koperasi.
  7. Bagi Koperasi Serba Usaha yang memiliki kegiatan selain simpan pinjam, dapat memposisikan sebagai koperasi produsen atau pemasar. Jika sudah memiliki modal yang cukup maka koperasi dapat mengembangkan usaha mandiri yang dikelola oleh koperasi. Sedangkan jika modal yang dimiliki belum cukup untuk mengembangkan usaha, maka koperasi bisa berperan sebagai pemasar produk – produk dari anggota.
  8. Pengelola Koperasi harus paham dan mampu mengikuti perkembangan teknologi, seperti pengelola harus mampu menggunakan komputer dengan baik dalam melakukan pencatatan atau pembukuan, dan mampu menggunakan internet dan sosial media.

Koperasi bukan sebuah perusahaan yang tujuannya mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya saja, namun sebuah organisasi yang disusun atas usaha bersama, yang tujuannya mulia yaitu menyejahterakan anggotanya. oleh karena itu keberadaanya harus bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh anggotanya. Semakin banyak pendapatan yang diperoleh oleh koperasi maka akan semakin besar pula kesejahteraan yang akan diperoleh oleh anggotanya.

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis di dalam mendampingi Koperasi Perempuan di Suatu daerah (desa) dimana Para pengelola koperasi yang didampingi tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai. Pengelola hanya masyarakat sekitar yang mau/ bersedia menjadi pengelola koperasi, mengingat di desa cukup sulit mencari orang – orang yang mau dan mampu mengelola koperasi. Semoga tulisan ini dapat menambahkan referensi terkait dengan Koperasi.

-lusi-