Archive | February 2019

Membangkitkan geliat usaha dagang koperasi

Pasca pelaksanaan RAT tahun buku 2018, dua Koperasi Perempuan yaitu Koperasi Karya Perempuan Mandiri (KPM) Desa Watusigar Kecamatan Ngawen dan Koperasi Sekar Arum (SA) Desa Semin Kecamatan Semin mulai kembali berbenah menyambut program koperasi tahun 2019. Hasil evaluasi Pelaksanaan kinerja koperasi tahun 2018, baik KPM maupun SA mengalami krisis dalam hal usaha dagang. Sejak berdiri hingga tahun 2018, kegiatan usaha dagang koperasi masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari segi Laba/ Keuntungan usaha dagang belum bisa memberikan sumbang sih bagi pendapatan koperasi. Dari segi aktivitas, aktivitas usaha dagang selama ini lebih banyak menunggu undangan pameran produk ketimbang memasarkan produk – produk anggota Koperasi.

Kendala terbesar yang dihadapi dalam pengelolaan usaha dagang adalah 1) Koperasi belum memiliki sistematika dan mekanisme usaha secara rinci dan jelas, sebenarnya rencana usaha sudah disusun namun komitmen untuk menjalankan yang masih sangat kurang. 2) Produk yang dimiliki koperasi masih belum jelas, awalnya koperasi memproduksi makanan olahan pertanian namun kemudian terkendala dengan siapa yang memproduksi dan proses pemasaran yang lambat. Ditambah lagi produk yang dibuat koperasi sama dengan produk yang dibuat oleh anggota. 3) Terkait dengan kemampuan koperasi untuk memberi upah pada pengelola usaha yang masih sangat rendah, sehingga pengelola usaha baru berjalan seadanya.

Berbekal dengan persoalan pengembangan dan pengelolaan usaha yang dihadapi tersebut, kemudian 2 Koperasi Perempuan (Sekar Arum & KPM) pada hari selasa & rabu, 19 – 20 Februari 2019 mengadakan pertemuan rutin pengurus yang salah satunya membahas persoalan usaha dagang. Dalam pertemuan tersebut kemudian disepakati untuk tahun 2019, Koperasi Perempuan (SA & KPM) akan mengembangkan usaha dagang “kredit barang rumah tangga”. Dimana Koperasi akan menyediakan barang – barang kebutuhan rumah tangga yang kemudian di kreditkan kepada anggota. Mekanisme usahapun disusun dan disepakati oleh pengurus, diantaranya 1) Harga barang yang dikreditkan maksimal Rp.300.000., 2) Tempo kredit adalah maksimal 2 bulan, 3) Keterlambatan pelunasan kredit barang akan dikenakan denda Rp.1000/hari., 3) Kredit barang diutamakan bagi anggota yang memiliki tabungan dan kredit lancar.  Hasil diskusi ini akan disosialisasikan saat pertemuan anggota pada akhir Februari 2019 ini.

Pilihan usaha dagang kredit barang ini dirasa cukup rasional untuk bisa dilakukan oleh koperasi, jika dilihat dari resiko dan juga keuntungan yang akan diperoleh dan dirasa cukup dibutuhkan juga oleh anggota koperasi. Untuk Usaha dagang sebagai pemasar produk olahan makanan anggota tetap akan dilakukan koperasi, namun tidak menjadi prioritas usaha dagang koperasi.

 

Advertisements