Archive | October 2018

Tahapan Mengembangkan Produk Unggulan Desa

Dalam rangka mendukung pembangunan Desa, Kementrian Desa Pembanguan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) telah menetapkan empat program prioritas. Empat program tersebut yakni (1) Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), (2) Membangun embung air desa, (3) Mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), (4) Membangun Sarana Olahraga Desa (Raga Desa). Khususnya yang terkait dengan Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) adalah dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produk unggulan Desa, agar mampu bersaing dan memberikan manfaat ekonomi masyarakat bagi masyarakat.

Didalam pelaksanaannya, pengembangan Prukades masih terdapat beberapa kendala terutama di tingkat desa diantaranya, Pertama Desa seringkali masih kebingunan dalam menentukan apa yang akan menjadi produk unggulan desa yang layak untuk dikembangkan, Kedua jika sudah menentukan produk unggulan tersebut kemudian bagaimana produk tersebut mampu bersaing dengan wilayah – wilayah lain, Ketiga Bagaimana mempromosikan produk unggulan tersebut agar mampu dikenal oleh masyarakat secara luas. Karena disadari bersama keterbatasan promosi dan pemasaran masih sangat dirasakan di Desa.

Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) melalui Divisi Pemberdayaan Perempuan di tahun 2018 berinovasi untuk mengembangkan Desa MANTAP (Mandiri, Terampil, dan Produktif) di 4 Desa (Desa Semin, Sambirejo, Watusigar dan Kampung) di Kabupaten Gunungkidul, dimana salah satu Indikator Desa MANTAP adalah Desa Memiliki Produk Unggulan, yang menjadi ciri khas dari Desa Tersebut. Dalam penentuan produk unggulan Desa beberapa tahapan yang dilakukan diantaranya :

  1. Penyusunan Profil Ekonomi Desa, dimana dalam profil tersebut teridentifikasi potensi – potensi lokal desa, dari potensi alam, sumber daya manusia, industri mikro kecil, aktivitas perdagangan dan infrastruktur ekonomi. Biasanya dari Potensi Ekonomi Desa ini akan nampak potensi apa saja yang sebenarnya sudah ada di Desa namun kurang dioptimalkan.
  2. Focus Group Disscussion (FGD) dengan Pemerintah Desa beserta masyarakat (khususnya Kelompok – kelompok Ekonomi Desa)  dalam membangun kesepakatan terkait dengan apa yang akan menjadi produk unggulan Desa. FGD dilakukan dengan memaparkan hasil Penyusunan Profil Ekonomi Desa, dimana didalam Profil Ekonomi Desa tersebut akan nampak peluang untuk pengembangan produk atau sumber daya alam potensial desa. Sebagai contoh Beberapa pilihan dari Produk unggulan 4 Desa yang didampingi YSKK sepakat untuk produk unggulan Desa diantaranya seperti : Produk Olahan Umbi umbian, Olahan  daun kelor, aneka kripik sayuran, Kerajinan anyaman plastik dan kerajinan akar wangi.  Pilihan tersebut didasarkan hasil Identifikasi Potensi Ekonomi Desa yang menunjukan bahwa produk – produk tersebut sudah lama banyak diproduksi oleh masyarakat. Sehingga ada jaminan untuk produk tersebut terus diproduksi.
  3. Tahap selanjutnya, setelah disepakati produk apa saja yang akan menjadi produk unggulan Desa adalah bagaimana meningkatkan kualitas & kuantitas produk unggulan desa tersebut supaya layak jual, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan desa. Proses meningkatkan kualitas & kuantitas produk dilakukan dengan melakukan identifikasi Kekuatan – kelemahan – peluang – tantangan dalam mengembangkan Produk Unggulan bersama dengan para pelaku ekonomi dari produk tersebut, Pemerintah Desa dan Pihak terkait. Identifikasi dilakukan untuk mengetahui proses produksi produk dari Hulu – Hilir, sehingga akan diketahui tahapan apa saja yang baiknya dilakukan untuk mengoptimalkan produk unggulan tersebut. Apakah pada proses produksinya, Pengemasan, Pemasaran atau bahkan di bagian pengadaan Bahan Baku.Dan pada setiap tahapan akan nampak kelemahan dari Produk Unggulan tersebut, yang kemudian bisa menjadi rekomendasi untuk diperbaiki bersama.
  4. Ditahapan terakhir adalah membangun pasar – jejaring dalam rangka mempromosikan dan menjual produk unggulan tersebut supaya dikenal oleh masyarakat luas.
  5. Evaluasi & Monitoring, merupakan aktivitas yang baiknya melekat dalam setiap tahapan agar Tujuan awal untuk Mengembangkan dan Mengoptimalkan Produk unggulan tersebut.

 

Tahapan yang sangat urgen untuk dilakukan secara cermat adalah pada 1 – 3, dimana pada tahap ini jika sejak awal salah menentukan apa yang akan menjadi produk unggulan Desa, maka didalam perkembangannya pun akan mengalami kesulitan. Begitu halnya jika kesalahan terjadi di tahap ketiga, dimana tahap ketiga adalah tahapan untuk mengidentifikasi Kekuatan dan Kelemahan Produk Unggulan (selama ini) maka upaya optimalisasi Produk Unggulan bisa menjadi kurang efektif.

Advertisements

Bisnis Model Kanvas Untuk Kelompok Perempuan

Rabu, 17 Oktober 2018 Yayasan Satu Karsa Karya melalui Divisi Pemberdayaan Perempuan memfasilitasi pertemuan Kelompok Desa Prima Desa Sambirejo Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul. Fasilitasi terkait dengan penyusunan rencana kerja/ rencana bisnis Kelompok Perempuan tersebut dalam mengoptimalkan produk unggulan Desa. Seperti yang disepakati sebelumnya bahwa Melalui Kelompok Ekonomi Perempuan ini Desa Sambirejo akan mengoptimalkan Produk Unggulan Desa yang berupa produk olahan makanan berbahan baku kelor, olahan makanan berbahan baku sayuran dan olahan makanan berbahan baku bonggol pisang. Produk olahan makanan tersebut sebenarnya sudah diproduksi oleh kelompok maupun individu, namun untuk bisa menjadi produk unggulan perlu kiranya strategi peningkatan kualitas, kuantitas dan penjualan produk tersebut agar lebih dikenal oleh masyarakat secara luas (terutama pasar di luar Desa Sambirejo).

Proses penyusunan Rencana Bisnis yang dilakukan menggunakan Metode Bisnis Model Kanvas, Analisa Bisnis Model Konvas ini dirasa cukup mempermudah kelompok perempuan dalam melakukan analisa kekuatan dan kelemahan bisnis. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan, maka analisa akan kebutuhan dan profit dapat dilakukan dengan cepat.

 

Contoh Hasil Bisnis Model Kanvas Kelompok Perempuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses fasilitasi dilakukan dengan berkelompok mendasarkan jenis produk unggulan yaitu 1) Olahan Bonggol Pisang, 2) Kripik Sayuran dan 3) Olahan Daun Kelor. Dari hasil analisis tersebut terdapat Kelemahan, Kekuatan, Peluang dan Tantangan dalam kualitas dan Kuantitas produk tersebut. yaitu

Kekuatan

  1. Produksi sudah dilakukan secara terus menerus
  2. Sudah memiliki beberapa rekan usaha/ tengkulak yang rutin order
  3. Beberapa produk sudah memiliki PIRT
  4. Dalam hal rasa dan kualitas produk tidak pasaran.

Kelemahan

  1. Bahan Baku seperti Kelor dan Bonggol Pisang agak sulit didapat terutama di musim kemarau.
  2. Proses pemotongan bahan baku masih dilakukan manual sehingga membutuhkan waktu yang lama
  3. Dalam perhitungan harga, hanya mempertimbangkan komponen bahan baku saja, belum mempertimbangkan komponen lain seperti listrik, air dan tenaga.
  4. Untuk produk olahan berbahan baku kelor yaitu egg rol baru bisa diproduksi satu orang saja padahal permintaan pasar cukup tinggi.
  5. Untuk produk olahan Mie Kelor masih terkendala peralatan/ Teknologi Tepat Guna
  6. Belum memaksimalkan media sosial/ media online untuk pemasaran.
  7. Kemasan produk kurang menarik
  8. Belum semua produk memiliki PIRT

Peluang

  1. Akhir tahun mendekati penyusunan RKP Desa baru (2019), kelompok perempuan bisa mengusulkan pelatihan produk olahan untuk kelompok ekonomi perempuan atau peralatan.
  2. Sudah berjejaring dengan pihak ketiga seperti YSKK, Dinas terkait dan LSM lain minimal bisa ikut terlibat dalam kegiatan pemasaran atau penguatan Kapasitas.

Tantangan

  1. Selain kelompok ekonomi Desa Sambirejo, beberapa Desa sekitar juga memiliki produk olahan makanan yang sama. Sehingga harus membuat cirri khas produk Desa Sambirejo agar dikenal luas.

Dari analisa diatas kemudian diturunkan beberapa strategi dan rekomendasi dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas produk unggulan Desa, beberapa strategi yang dihasilkan antara lain :

  1. Mengusulkan kepada Pemerintah Desa melalui Musyawarah Desa 2018 agar dianggarkan untuk peralatan atau Teknologi Tepat Guna untuk produksi Mie Kelor (Rekomendasi untuk Pemerintah Desa)
  2. Mengusulkan Kepada Pemerintah Desa melalui Musyawarah Desa 2018 ada anggaran untuk pengadaan bibit kelor dan pisang, untuk menutupi kekurangan bahan baku (Rekomendasi untuk Pemerintah Desa)
  3. Mencari informasi ke daerah sekitar Gunungkidul seperti Klaten, Sukoharjo dan Wonogiri terkait dengan bahan baku bonggol pisang dan daun Kelor (Rekomendasi untuk anggota kelompok)
  4. Menambah jumlah anggota kelompok yang ikut produksi olahan kelor (Rekomendasi untuk Anggota Kelompok)
  5. Membuat kemasan yang menarik (Rekomendasi kepada Kelompok dan minta bantuan YSKK)
  6. Membuat Platform usaha Online untuk meningkatkan penjualan ( Rekomendasi kepada Pemerintah Desa terkait dengan Website Desa, dan juga Meminta bantuan YSKK)
  7. Mengikuti kegiatan pelatihan tentang pemasaran (Rekomendasi untuk YSKK terkait dengan pelatihan yang akan dilakukan kedepan)
  8. Mencarikan ijin PIRT untuk produk yang belum memiliki ijin (Rekomendasi untuk Kelompok)

 

Hasil diskusi ini, harapannya menjadi acuan untuk kelompok maupun individu dalam optimalisasi produk unggulan Desa. dan Optimalisasi produk unggulan Desa dapat dilakukan oleh beberapa pihak yaitu kelompok dan anggota kelompok selaku produsen, Pemerinta Desa dan Pihak ketiga seperti YSKK