Archive | July 2017

Koperasi dan Persoalannya

Menurut Undang-undang Nomor 25 tahun 1992 koperasi ialah bidang usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Tujuan berdirinya suatu koperasi yaitu mensejahterakan para anggotanya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju.

Didalam perkembangannya koperasi saat ini banyak mengalami hambatan yang membuat perkembangan koperasi menjadi sangat lambat. Hambatan muncul baik dari internal koperasi maupun eksternal. Hambatan internal seperti : 1) Minimnya sikap profesionalitas para pengelola koperasi,  hal ini terjadi bisa karena tingkat pendidikan pengelola serta keahlian yang dimiliki pengelola koperasi yang terbatas, 2) Kurang bekerjanya fungsi pengawas koperasi, 3) Minimnya inovasi – inovasi yang dilakukan koperasi dalam menarik minat masyarakat untuk tergabung menjadi anggota. Sedangkan hambatan eksternal yang biasa dialami koperasi antara lain : 1) Tingkat pengembalian pinjaman yang kurang lancar sehingga mengurangi pendapatan dari Koperasi, 2) Partisipasi anggota yang rendah dalam kegiatan – kegiatan koperasi seperti RAT, 3) Lebih banyak anggota yang tidak memiliki usaha sehingga ketika meminjam di Koperasi hanya digunakan sebagai kebutuhan konsumsi, 4) Kurangnya pemahaman bagi masyarakat tentang keuntungan bergabung dengan koperasi, 5) Hambatan yang cukup besar pula dirasa saat ini adalah dimana koperasi harus mampu bertahan ditengah kompetisi perbankan.

Hambatan internal dan ekternal tersebut yang setiap tahunnya masih sering muncul di Koperasi. Sebenarnya persoalan – persoalan tersebut bisa diselesaikan asalkan semua komponen yang ada di koperasi mampu saling berkerjasama dan berkoordinasi dengan baik. Komponen – komponen tersebut seperti pengelola koperasi, pengawas koperasi, anggota koperasi, pemerintah daerah dan pihak eksternal lain seperti LSM. Beberapa solusi yang bisa dilakukan dalam upaya meminimalisir hambatan – hambatan koperasi antara lain :

  1. Mengaktifkan kegiatan pendidikan perkoperasian, pendidikan perkoperasian bisa diperuntukkan bagi pengelola, pengawas maupun anggota tergantung dengan tema yang dipilih. Pendidikan perkoperasian bagi pengelola tema yang diangkat bisa terkait dengan bagaimana menyusun laporan keuangan yang tepat waktu, atau bagaimana peran dan fungsi pengelola koperasi sesuai dengan posisi yang diamanahkan. Sedangkan pendidikan perkoperasian bagi anggota dapat mengambil tema tentang management ekonomi rumah tangga, kiat berwirausaha, dll. Pendidikan perkoperasian sebenarnya merupakan inovasi yang bisa dilakukan oleh koperasi dalam menarik minat masyarakat dan kepedulian anggota kepada koperasi.
  2. Perlu dilakukan regenerasi kepengurusan/ pengelola koperasi. Kurang profesionalnya pengelola dalam mengelola koperasi salah satu nya dikarenakan adanya rangkap jabatan dalam struktur kepengurusan dan juga regenerasi yang kurang berjalan dengan baik, seperti kebanyakan pengelola koperasi adalah generasi tua dan sangat minim generasi muda yang terlibat di dalam pengelolaannya. Maka perlu kemudian dilakukan regenerasi kepengurusan atau tahapan pengkaderan bagi pengelola koperasi.
  3. Untuk meminimalisir adanya pinjaman bermasalah, hendaknya koperasi memiliki quality control terkait proses peminjaman seperti adanya survey kelayakan calon peminjaman, memastikan jaminan yang diberikan adalah senilai dengan jumlah pinjaman. Selain itu dapat juga diberlakukan rasio besarnya pinjaman terhadap tabungan anggota. Semakin besar tabungan/ simpanan yang dimiliki anggota di koperasi maka semakin besar pula jumlah pinjaman yang bisa diberikan oleh koperasi.
  4. Jika pinjaman bermasalah sudah terlalu tinggi/ kredit macet tinggi hal yang bisa dilakukan antara lain ; melakukan pendataan ulang para peminjam koperasi dan dibagi berdasarkan kategori tertentu seperti pinjaman lancar, pinjaman kurang lancar, pinjaman tidak lancar dan pinjaman macet. Kategori ini bisa disesuaikan dengan kebijaksanaan koperasi misalkan pinjaman kurang lancar adalah peminjam yang angsuran setiap bulannya tidak melebihi 2 bulan jatuh tempo. Dari hasil pemilahan para peminjam ini maka akan diketahui jumlah peminjam paling banyak berada pada posisi/kategori mana yang kemudian dapat dilakukan tindakan selanjutnya seperti penagihan, penyitaan jaminan, dll.
  5. Untuk menarik minat masyarakat untuk bergabung di Koperasi, koperasi bisa memberikan program program yang menarik seperti adanya reward/ hadiah bagi anggota yang jumlah tabungannya besar atau anggota yang rutin membayarkan angsuran tepat waktu. Bisa juga diadakan kegiatan sosial seperti pemberian beasiswa bagi anggota yang memiliki anak berprestasi, dll
  6. Dalam rangka membangun jaringan dengan pemerintah daerah dalam hal ini dinas koperasi kabupaten/ kota, hendaknya koperasi rutin memberikan laporan (data & informasi) perkembangan koperasi setiap bulannya ke dinas koperasi, selain itu koperasi juga bisa melibatkan dinas terkait dalam aktivitas aktivitas yang diselenggarakan koperasi.
  7. Bagi Koperasi Serba Usaha yang memiliki kegiatan selain simpan pinjam, dapat memposisikan sebagai koperasi produsen atau pemasar. Jika sudah memiliki modal yang cukup maka koperasi dapat mengembangkan usaha mandiri yang dikelola oleh koperasi. Sedangkan jika modal yang dimiliki belum cukup untuk mengembangkan usaha, maka koperasi bisa berperan sebagai pemasar produk – produk dari anggota.
  8. Pengelola Koperasi harus paham dan mampu mengikuti perkembangan teknologi, seperti pengelola harus mampu menggunakan komputer dengan baik dalam melakukan pencatatan atau pembukuan, dan mampu menggunakan internet dan sosial media.

Koperasi bukan sebuah perusahaan yang tujuannya mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya saja, namun sebuah organisasi yang disusun atas usaha bersama, yang tujuannya mulia yaitu menyejahterakan anggotanya. oleh karena itu keberadaanya harus bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh anggotanya. Semakin banyak pendapatan yang diperoleh oleh koperasi maka akan semakin besar pula kesejahteraan yang akan diperoleh oleh anggotanya.

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis di dalam mendampingi Koperasi Perempuan di Suatu daerah (desa) dimana Para pengelola koperasi yang didampingi tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai. Pengelola hanya masyarakat sekitar yang mau/ bersedia menjadi pengelola koperasi, mengingat di desa cukup sulit mencari orang – orang yang mau dan mampu mengelola koperasi. Semoga tulisan ini dapat menambahkan referensi terkait dengan Koperasi.

-lusi-

 

Advertisements

Pertemuan Bulanan Kopwan MUP

Rabu, 19 Juli 2017 diselenggarakan pertemuan pengurus Koperasi Mitra Usaha Perempuan (MUP) Desa Kampung Kecamatan Ngawen. Pertemuan yang diikuti oleh 7 orang pengurus Koperasi tersebut membahas antara lain tentang : Adanya undangan pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi DIY, Undangan kegiatan Pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Gunungkidul, Laporan Keuangan Koperasi dan yang terakhir adalah terkait dengan pengembangan usaha dagang koperasi. Pertemuan dilaksanakan dengan masing – masing bidang melaporkan hal – hal apa saja yang sudah dilakukan selama bulan Mei – Juni, dan apa saja yang masih menjadi kendala.

Terkait dengan undangan pelatihan dari Dinas Koperasi DIY rencananya akan diwakili oleh Ketua Koperasi mengingat tema yang diangkat dalam pelatihan adalah terkait tentang Managemen Resiko Bagi  Koperasi. sedangkan terkait dengan undangan pameran produk, untuk sementara Kopwan MUP tidak mengirimkan produk untuk dipamerkan mengingat minggu ini Desa Kampung akan menyelenggarakan syawalan dimana para warganya saat ini sedang disibukkan dengan persiapan syawalan, sehingga anggota kopwan MUP yang biasanya membuat produk makanan sementara sibuk membuat pesanan untuk syawalan.

Dua Pokok bahasan dalam rapat yang menjadi pembahasan cukup penting dan lama adalah terkait dengan keuangan koperasi dan pengembangan usaha. Untuk keuangan koperasi hingga bulan Juni 2017, Kopwan MUP hanya mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 7,7 Juta pendapatan ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pendapatan pada tahun 2016.  Dimana pada bulan Juni 2016 Kopwan MUP memiliki Pendapatan sebesar sekitar Rp. 9 Juta. Menurunnya pendapatan koperasi ini dikarenakan masih tingginya piutang tidak lancar (terutama selama bulan Mei – Juni), dan mulai dikeluarkannya biaya untuk insentif bagi pengurus setiap bulannya sebesar 20% dari pendapatan setiap bulan. Terkait dengan menurunnya pendapatan koperasi, hal yang kemudian menjadi rekomendasi dalam rapat untuk segera ditindak lanjuti adalah Bendahara Kopwan MUP wajib melakukan pemetaan Piutang anggota. Piutang Anggota diklasifikasikan dalam 4 Kategori, Piutang lancar, Piutang Kurang Lancar ( Piutang yang pembayarannya Kurang dari 3 bulan ), Piutang Tidak Lancar (Piutang yang pembayarannya lebih dari 3 bulan hingga maksimal 6 bulan), dan Piutang yang Macet (Piutang yang pembayarannya lebih dari 6 bulan). Klasifikasi piutang anggota ini perlu untuk dilakukan, untuk melihat pada klasifikasi yang mana akan dilakukan prioritas penagihan atau tindakan penagihan. Selain menurunnya pendapatan koperasi, jumlah permintaan pinjaman dengan jumlah keuangan koperasi yang tidak seimbang. Bulan Juli ini saja sudah ada permintaan pinjaman sebesar Rp. 8,5 Juta, namun keuangan koperasi hanya mampu memberikan pinjaman sebesar Rp. 2,5 Juta. Hal ini tentunya tidak akan terjadi jika pencatatan piutang dilakukan dengan sistematis.

Selanjutnya adalah terkait dengan pengembangan usaha Kopwan MUP. Selama ini Kopwan MUP mengembangkan usaha penggaduhan kambing, namun dari usaha tersebut kopwan MUP tidak mendapatkan hasil yang cukup baik bahkan cenderung merugi. Hal ini dikarenakan jangka waktu penggaduhan yang lama (tidak ada kesepakatan terkait waktu), dan penyakit kambing yang menyebabkan harga kambing menurun. Untuk mengatasi persoalan tersebut, dalam pertemuan pengurus disepakati bahwa mulai Juli 2017 Kopwan MUP tidak lagi mengembangkan usaha gaduhan kambing, namun lebih memilih usaha pengemukan kambing (kambing jantan). Usaha penggemukan kambing dirasa lebih mudah untuk dilakukan karena waktunya yang relatif lebih singkat, dan resiko penyakit juga lebih bisa diatasi karena kambing Jantan. Minimnya pendapatan Koperasi dari usaha dagang merupakan salah satu dari penyebab perkembangan aktiva/kekayaan koperasi sangat lambat.

Beberapa rekomendasi dari hasil pertemuan pengurus Kopwan MUP bulan Juli 2017 ini kemudian akan menjadi bahan monitoring dan evaluasi kinerja koperasi bulan selanjutnya. Titik kritis dari kondisi Koperasi MUP terletak pada kegiatan simpan pinjam yang berjalan sangat lambat. Koordinasi yang baik antar pengurus serta pencatatan pembukuan keuangan secara sistematis menjadi salah satu kunci agar kopwan MUP mampu keluar dari persoalan yang dihadapi.

-Lusi-