Kelompok Perempuan, Aset Desa Yang Terlupakan

Hadirnya kelompok – kelompok perempuan di desa, nampaknya tidak bisa hanya dipandang sebelah mata. Secara jumlah tentunya lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok – kelompok lain yang ada di desa. Hitung saja, jika satu desa memiliki 10 padukuhan, maka didesa tersebut minimal sudah memiliki 10 kelompok perempuan desa yang tergabung dalam PKK Padukuhan dan 1 PKK Desa, belum lagi kelompok dasawisma yang jumlahnya minimal 2 – 3 dasawisma per padukuhan, belum lagi kelompok wanita tani (KWT), Kelompok Pengajian Perempuan, dan kelompok perempuan lainnya. Kelompok – kelompok perempuan yang merupakan aset desa ini seringkali terlupakan, dengan alasan kelompok tersebut terbentuk bukan keinginan dari desa atau kelompok tersebut ada hanya untuk lingkup kecil saja (misalnya lingkup padukuhan). Sehingga seringkali kelompok – kelompok perempuan tersebut agaknya sedikit terlupakan keberadaannya. Kelompok – kelompok perempuan di desa akan diperhatikan jika kelompok tersebut muncul dengan prestasinya yang cemerlang ditingkat Kabupaten misalnya yang kemudian diakui sebagai kelompok perempuan desa, walaupun selama perjalanannya tidak ada pendampingan dari desa.

Dalam rangka meningkatkan eksistensi perempuan khususnya di tingkat desa, sudah bukan rahasia lagi saat ini banyak bermunculan kelompok – kelompok perempuan di desa. Kelompok – kelompok perempuan tersebut terbagi dalam kelompok teritorial dan sektoral, kelompok perempuan sektoral seperti kelompok simpan pinjam perempuan, kelompok wanita tani, koperasi perempuan, kelompok karawitan/ kesenian perempuan, dll. Sedangkan kelompok perempuan teritorial seperti PKK Desa, PKK Dusun, dan Dasawisma. Terbentuknya kelompok – kelompok perempuan ini didasari dari banyak faktor, pertama karena permintaan dari pemerintah pusat dimana keberadaan kelompok perempuan seperti PKK merupakan turunan dari kelompok PKK yang ada di pusat yang kemudian wajib untuk tingkat dibawahnya (Kabupaten, Kecamatan, Desa, dan Dusun) memiliki kelompok yang sama. Kedua, kelompok perempuan tersebut lahir karena masyarakat (perempuan) yang biasanya berada dalam satu padukuhan merasa memiliki kebutuhan yang sama seperti kelompok kesenian perempuan, kelompok wanita tani, dan koperasi perempuan. Ketiga, kelompok perempuan yang lahir karena memang desakkan dari berbagai pihak yang memang mewajibkan untuk membentuk kelompok jika menginginkan adanya bantuan/ pinjaman, seperti kelompok simpan pinjam.

Jika kita menghitung jumlah kelompok perempuan yang ada di desa, maka minimal akan ada 10 kelompok perempuan di desa. Contoh saja di salah satu desa di Kabupaten Gunungkidul, Desa tersebut memiliki 12 Padukuhan yang berarti ada 12 PKK Dusun ditambah 1 PKK Desa, dan Sekitar 24 Kelompok Dasawisma (12 Pkk Dusun x 2 Dasawisma/dusun), biasanya setiap dusun memiliki 1 Kelompok Wanita Tani (KWT). Maka minimal akan ada 12 KWT dusun. Sehingga jika ditotal ada 49 Kelompok Perempuan di Desa tersebut. baik kelompok teritorial maupun sektoral. Sayangnya keberadaan kelompok – kelompok perempuan ini belum terdokumentasi dengan baik di database Pemerintahan Desa. Padahal jika keberadaan kelompok ini dapat terdata secara rapi oleh Pemerintahan Desa, maka desa tidak akan lagi kesulitan saat akan menentukan bentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang akan dikembangkan. Karena dengan melihat potensi – potensi yang dimiliki oleh masing – masing kelompok perempuan, akan nampak kecenderungan dari masyarakat desa tersebut yang kemudian bisa dikembangkan menjadi potensi dari desa tersebut. Misalkan jumlah kelompok perempuan yang konsen dalam hal simpan pinjam ternyata jumlahnya hampir 60% dari kelompok yang ada, maka sebenarnya bisa saja usaha desa yang dikembangkan adalah kegiatan koperasi/simpan pinjam. Atau ternyata jumlah kelompok perempuan dalam hal kesenian ternyata cukup banyak, maka bisa juga desa tersebut kemudian mengembangkan sebuah gedung kesenian dengan segala kelengkapannya yang bisa disewakan peralatannya maupun jasa pertunjukannya.

Beberapa waktu lalu tim Divisi Pemberdayaan Perempuan YSKK melakukan identifikasi keberadaan kelompok – kelompok perempuan di 8 Desa di Kabupaten Gunungkidul. Identifikasi tersebut dilakukan dengan mengundang kelompok – kelompok perempuan yang ada di 8 desa untuk sharing pengalaman dan kegiatannya dalam kelompok tersebut. Hasilnya sangat luar biasa, karena dari hasil identifikasi tersebut banyak sekali ditemukan potensi – potensi dari kelompok perempuan yang ternyata mampu berkembang secara mandiri, seperti Kelompok Simpan Pinjam Perempuan yang melakukan kegiatan simpan pinjam tanpa bantuan modal dari manapun, yang murni dari modal anggota kelompok yang kemudian mampu berkembang dengan sangat baik bahkan ada yang kemudian membentuk Koperasi Perempuan. Kemudian kelompok kesenian perempuan atau mereka menyebutnya Hadroh yang awalnya dibentuk hanya berupa kegiatan pengajian perempuan biasa yang kemudian menjadi besar dan banyak disewa jasanya saat ada hajatan/pengajian/acara desa lainnya, belum lagi kelompok perempuan olahan makanan yang awal terbentukknya hanya karena iseng perempuan dalam satu padukuhan yang merasa kurang pintar bertani, namun ingin memiliki penghasilan tanpa meninggalkan rumah.

Perempuan merupakan aset ekonomi yang berharga yang dapat berkontribusi besar terhadap pengembangan komunitas dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Nilai tambah dari pengintegrasian kedalam upaya upaya pemulihan harus dilaksanakan melalui konsultasi, pengambilan keputusan, serta pengembangan kapasitas yang inklusi (Harper, 2009). Keadaan ini dapat menciptakan dinamika kehidupan perempuan didalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat sosialnya. Kondisi perempuan Indonesia saat ini masih belum mencapai tahap kesetaraan dan keadilan. Hal ini dibuktikan dari masih banyaknya masalah yang dihadapi oleh kaum perempuan mulai dari tindakan kekerasan, pembodohan, ketenagakerjaan (seperti ketidak adilan upah kerja). Perempuan perlu berdaya dan sadar akan pentingnya kemandirian hidup agar dapat survive dalam kehidupannya. Anggapan yang sering dilabelkan pada perempuan desa, bahwa perempuan desa memiliki pendidikan yang rendah, kurangnya keterampilan, pembagian kerja secara seksual yang masih kaku dan tinginya angka pernikahan dini.  Nampaknya hal tersebut dapat mulai dihilangkan, perempuan desa memiliki potensi yang akan sangat luar biasa jika dikembangkan secara baik, walaupun seringkali secara kultural perempuan desa terikat oleh adat dan budaya setempat. Namun jika perempuan desa tersebut kemudian berkelompok, saling berinteraksi satu dengan yang lainnya maka akan lahir potensi – potensi luar biasa yang seringkali tidak terduga. Dan akan sangat baik jika pemerintah desa kemudian bisa melakukan pendokumentasian data dan informasi secara baik terkait dengan kelompok perempuan yang ada di desanya, kemudian melakukan pendampingan, dan melibatkan dalam aktivitas pembangunan yang ada di desa.

Memang disadari jika Desa harus mengayomi sejumlah kelompok  tersebut yang ada di desa tentunya akan sangat berat, namun pendampingan secara masif kepada kelompok perempuan tersebut agar berkembang dengan baik sebenarnya dapat dilakukan secara bertahap, dan bisa dilakukan sistem kluster terhadap kelompok perempuan yang ada. Karena sejatinya perempuan – perempuan yang bergabung di dalam suatu kelompok perempuan adalah perempuan – perempuan yang bercita – cita untuk maju dan dapat memperbaiki kondisi kehidupannya. Tanpa Mengharap imbalan apa – apa kelompok – kelompok perempuan tersebut berkembang secara mandiri, mereka secara sukarela untuk iuran kelompok, mereka secara sukarela untuk menyisihkan waktunya pada saat pertemuan. Dan kelompok perempuan tersebut akan sangat senang sekali jika ada perwakilan pemerintah desa yang sedikit memberikan perhatian. Bukan perhatian secara materi, cukup perhatian untuk di berikan arahan atau pendampingan saja sudah cukup membuat kelompok perempuan tersebut merasa senang. Karena tidak sedikit juga kelompok perempuan yang kemudian mampu berprestasi baik ditingkat Kecamatan, Kabupaten bahkan Provinsi yang membawa nama baik Desa. Maka kemudian perlu difikirkan dan dilakukan upaya agar potensi desa yang berupa Kelompok – kelompok perempuan ini mampu berkembang dan bermanfaat bagi pembangunan desa.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s